Anak-anak adalah generasi penerus bangsa serta harapan masa depan. Di tangan merekalah tergenggam potret masa depan Indonesia. Oleh karena itu, memastikan setiap anak mendapatkan akses pendidikan yang baik, memperoleh hak untuk hidup sehat, dan tumbuh dalam lingkungan yang aman adalah tanggung jawab kita bersama.
Hari Anak Nasional yang diperingati setiap tanggal 23 Juli merupakan suatu momentum untuk merefleksikan kembali bahwa upaya membangun Indonesia. Tidak hanya berbicara mengenai saat ini, melainkan juga generasi masa depan. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak pada tahun ini menetapkan tema peringatan Hari Anak Nasional βSayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depanβ. Tema tersebut menjadi pengingat bahwa seluruh elemen masyarakat memiliki tanggung jawab untuk memastikan setiap anak dapat tumbuh, berkembang, memperoleh pendidikan, kesehatan, serta perlindungan.
Di balik kesempatan anak untuk bisa belajar, tumbuh sehat, dan mengejar cita β cita, ada semangat gotong royong yang menjadi kekuatan pembangunan Indonesia yaitu kontribusi masyarakat melalui pajak. Anak-anak mungkin belum memahami apa itu pajak, tetapi manfaat pajak setiap hari bisa mereka rasakan. Jalan yang mereka lalui menuju sekolah, bangunan sekolah dan fasilitasnya tempat mereka belajar, serta pelayanan kesehatan saat mereka sakit merupakan hasil pembangunan yang dibiayai dari kontribusi pajak masyarakat.
Penerimaan pajak menjadi penyokong utama Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Lebih dari 70% penerimaan negara berasal dari kontribusi pajak. Melalui APBN yang didukung penerimaan pajak, Pemerintah berupaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Sebagai contoh, Pemerintah membangun Sekolah Rakyat untuk anak-anak yang tidak mampu. Pemerintah juga membangun Sekolah Garuda untuk mempersiapkan siswa melanjutkan pendidikan ke universitas kelas dunia dan meningkatkan daya saing generasi muda Indonesia di tingkat global.
Sekolah Rakyat dan Sekolah Garuda merupakan bentuk langkah Pemerintah untuk menyediakan pendidikan berkualitas, mengentaskan kemiskinan, dan mempersiapkan generasi muda demi terwujudnya visi Indonesia Emas 2045. Kedua program tadi dapat terlaksana karena masyarakat bergotong royong melalui pembayaran pajak.
Selain pendidikan, kesehatan anak-anak juga menjadi perhatian utama Pemerintah. Anak-anak yang sehat memiliki kesempatan yang lebih besar untuk belajar dan berprestasi. Oleh karena itu Pemerintah menyelenggarakan berbagai macam program di bidang kesehatan, salah satunya adalah Cek Kesehatan Gratis (CKG) Sekolah.
Program CKG Sekolah ditujukan bagi anak usia sekolah untuk identifikasi faktor risiko kesehatan, deteksi dini kondisi pra penyakit, dan deteksi penyakit lebih awal. Pemeriksaan kesehatan dilakukan secara langsung di sekolah sehingga siswa tidak perlu datang ke fasilitas kesehatan. Pemerinah menargetkan sebanyak 50 juta siswa mengikuti program CKG selama tahun 2026. Program yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan ini dapat terwujud melalui APBN yang didukung oleh penerimaan pajak.
Membayar pajak bukanlah sekadar menunaikan kewajiban sebagai warga negara, tetapi merupakan wujud gotong royong untuk mewujudkan kemajuan bangsa. Kontribusi pajak yang dihimpun dari masyarakat akan dikembalikan lagi ke masyarakat dalam berbagai bentuk fasilitas yang bisa dimanfaatkan bersama, termasuk oleh generasi penerus bangsa.
Anak-anak kita hari ini adalah penentu masa depan Indonesia. Untuk bisa mewujudkan generasi penerus bangsa yang sehat, kompeten, dan berdaya saing memerlukan usaha yang berkelanjutan, salah satunya adalah dengan bergotong royong melalui pembayaran pajak.
Pajak merupakan kunci untuk menggapai masa depan Indonesia yang lebih cerah. Setiap pembayaran pajak yang kita lakukan hari ini menjaga mimpi anak-anak Indonesia untuk hari esok. Mari bergandengan tangan untuk membangun masa depan cerah bagi seluruh anak Indonesia.
*)Tulisan ini merupakan pendapat pribadi penulis dan bukan cerminan sikap instansi tempat penulis bekerja