Sesosok kakek terus berada di sudut pandang mata saya sembari saya memberikan layanan help desk siang itu. Saya menduga-duga, hendak apa si kakek datang ke kantor pajak. Sebatang tongkat berwarna perak tak lepas dari genggamannya untuk meraba benda dan kondisi yang ada di sekitarnya. Kakek bukan sembarang kakek, kakek dari pulau Sumatra. Kakek bukan berlagak bokek, ternyata kakeknya tunanetra.
Setelah tongkatnya menyentuh sofa warna biru, seketika itu pula si kakek melipat tongkatnya menjadi tiga bagian dan menyimpannya di selipan tas yang ia bawa. Segera ia duduk dengan rapi menghadap arah yang berlawanan dengan tamu-tamu yang lain di sekitarnya. Beberapa ibu-ibu tidak berani berkomentar karena sepertinya mereka paham, ini bukan sembarang kakek. “Bahkan emak-emak pun terdiam, luar biasa kakek,” batin saya.
Saya lihat mesin antrian di layar komputer, masih dua antrian yang tersisa. Si kakek duduk manis, meskipun tidak semanis bolu ketan, bersama dengan Wajib Pajak yang lain. “Apakah mungkin si kakek ingin mendaftarkan NPWP? Namun untuk apa?” batin saya sambil terus memberikan layanan kepada tamu yang berada di depan saya.
Setelah tiba giliran si kakek, saya panggil nomor antriannya. Si kakek masih duduk tenang, merasa tidak ada yang memanggil. Ingin saya memberikan isyarat pandangan dan gestur untuk mempersilakan, namun saya urungkan karena si kakek tidak dapat melihat. Ingin hati berteriak, namun nanti takut kualat berbuat tidak sopan kepada yang lebih tua.
Akhirnya saya putuskan untuk berdiri dan mendekat kepada si kakek untuk mempersilakannya duduk di kursi layanan help desk. Sebelum saya sempat berdiri, petugas pengarah layanan rupanya tanggap dan mendahului saya untuk mempersilakan si kakek menuju meja layanan. “Oke juga si mbak, nanti kalau saya jadi menteri, saya naikkan gajinya,” batin saya.
“Selamat siang, Pak. Ada keperluan apa yang bisa saya bantu?” sapa saya.
“Ini Mas, saya kan punya NPWP, tapi saya belum bayar pajak setahun terakhir. Saya mau bayar sekalian tolong dibantu lapor perpanjangan NPWP, ya,” sahut si kakek.
“Wah, kartu NPWP-nya tidak perlu diperpanjang, Pak. Biarkan segitu aja, nanti Bapak repot menyimpan di dompet kalo kepanjangan kartunya,” balas saya sambil tersenyum semanis buah manggis, tetapi segera saya kurangi kelebaran senyum saya karena saya sadar si kakek tidak bisa melihat.
Namun ternyata smiling voice itu sepertinya bisa didengar oleh hati si kakek karena segera ia tertawa terkekeh, “Iya juga ya, Mas. Kalo kartunya satu meter panjangnya gak muat di dompet.”
“Ditunggu dulu ya, Pak. Saya cek dulu riwayat pembayaran Bapak. Siapa tau Bapak lupa kalau sudah bayar pajak,” sahut saya sambil memainkan tetikus dan mengetik NIK si kakek di pencarian sistem Coretax.
“Saya ini belum pikun, Mas. Cuma buta aja. Hehehehe…” sahutan si kakek membuat saya semakin takut membalas karena khawatir candaan saya terlalu gelap. Karena, pandangan si kakek sepertinya sudah gelap sedari lahir.
Sambil saya tanyakan email dan nomor ponsel si kakek, saya aktifkan akun Coretax beliau dan saya buatkan kata sandi serta kode otorisasi. Setelah konsep SPT saya buat, kembali saya ajak ngobrol si kakek.
“Di sistem memang Bapak belum bayar pajak selama tahun 2025. Bapak pekerjaannya apa?”
“Saya biasanya tukang pijat, Mas. Di rumah buka, tapi kalau dipanggil juga bisa. Masnya kalau mau saya pijat nanti WA saja sama kirim lokasi. Nanti saya datang naik ojek online,” sahutnya.
Tunggu dulu, si kakek kan tidak bisa melihat, bagaimana bisa si kakek baca pesan dan memesan ojek online menuju lokasi konsumen? Kakek sakti ini.
Sepertinya si kakek mampu membaca suara hati saya. Sambil ia mengeluarkan gawainya, si kakek berkata, ”HP saya ini sudah di-setting khusus tunanetra, Mas. Saya bisa mendengarkan pesannya orang-orang. Lihat, nih." Kemudian si kakek mengatakan beberapa perintah dengan suaranya dan memencet-mencet layar, kemudian terdengar suara mbak-mbak google maps membacakan pesan dari beberapa pelanggannya.
Si kakek kemudian memeragakan bagaimana ia memesan ojek online menuju lokasi permintaan pelanggannya. Saya cuma bisa terperangah menyaksikan kehebatan si kakek. Keterbatasan fisik sempat membuat saya meragukan kehebatannya dalam melawan dunia. Namun sekarang saya ingin memberikan hormat. Salut!
“Memang Bapak biasa bayar pajak berapa?” ucap saya setelah sadar dari kekaguman saya.
“Tahun kemarin per bulan Rp50 ribu mas. Tahun ini boleh gak kalau disamain?” sahut si kakek.
Di dalam pikiran saya berhitung. Rp50 ribu dibagi 0,5% jadi Rp10 juta. Kalau dikali 12 bulan jadi Rp120 juta. Lantas saya menyahut, ”Bapak kan penghasilannya Rp120 juta setahun. Menurut peraturan yang ada sekarang, Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2022, Bapak masih belum wajib bayar pajak, Pak. Yang wajib bayar pajak hanya usahawan yang omzetnya di atas Rp500 juta setahun.”
Sambil tersenyum si kakek menjawab, “Saya sudah tahu, Mas. Tapi saya juga tahu kalau pajak yang saya bayar nanti akan dipakai sama pemerintah untuk biaya sekolah anak-anak. Saya juga mau bantu. Meski saya kekurangan fisik dan materi, saya juga mau nyumbang, Mas.”
Saya tak mampu berkata-kata lagi. Sambil memuji kemuliaan hati si kakek dan kemuliaan Tuhan yang telah menciptakan makhluk sekeren ini, saya membuatkan kode billing senilai Rp50 ribu per bulan selama tahun 2025. Sementara di luar sana riuh rendah suara masyarakat yang memuji atau mencaci, di depan saya ada sesosok yang fisiknya tak mampu melihat, namun batinnya mampu menerawang sedemikian jauh. Bahkan sambil menuliskan kembali kisah ini, mata saya sedikit berembun.
“Sudah saya buatkan ya, Pak. Ini nanti Bapak mau bayar di mana? Di sebelah tangga ada loket Bank Pembangunan Daerah kalau misalnya Bapak mau bayar di sini,” sambil saya pegang tangan si kakek untuk menyerahkan dua belas lembar kode billing yang sudah saya cetak.
“Di sebelah mana, Mas?” sahut si kakek sambil mengeluarkan tongkat yang tadinya terlipat menjadi tiga bagian.
Saya langsung berdiri, saya pegang tangan beliau kemudian saya tuntun sampai ke kursi di depan loket layanan bank. Saya sampaikan keperluan si kakek kepada nona manis di seberang loket. Ternyata dia matre, langsung minta uang. Si kakek yang mendengar percakapan saya rupanya paham, segera ia mengeluarkan dompet dan mengeluarkan beberapa lembaran warna biru. Dengan sigap ia menyisihkan lembaran warna hijau dan ungu yang terselip di antaranya. Saya lihat hitungannya pas. Mantap kakek.
Saya serahkan uang tersebut ke nona manis di seberang loket. Sejenak kemudian terdengar suara printer berderit. Dua belas lembar bukti pembayaran pajak saya serahkan kepada si kakek sambil saya bertanya, “Bapak masih ada keperluan lain yang bisa saya bantu?”
“Ini berarti saya sudah bayar, ya. Tadi SPT-nya sudah dikirim, Mas?” sahut si kakek.
“Bapak pulang saja, habis ini saya bantu kirim SPT-nya. Hati-hati di jalan ya, Pak. Tahun depan kartu NPWP-nya jangan diperpanjang, nanti Bapak yang susah,” sahut saya.
Sambil terkekeh, si kakek berjalan keluar kantor sambil mengetuk-ngetukkan tongkatnya. Saya melihat di belakang pintu kaca saat si kakek dipanggil oleh pengemudi ojek online kemudian hilang dari pandangan.
Terkadang, kita yang fisiknya sempurna masih belum mampu, atau belum mau untuk melihat kenyataan bahwa pajak yang sudah kita bayar masih bermanfaat bagi masyarakat yang membutuhkan. Anda boleh tidak suka, namun pajak masih berguna. Minimal, lihatlah, pendidikan dasar masih gratis, bensin juga masih tersubsidi. Itu semua dari pajak yang kita bayar.
Batas waktu lapor SPT bagi badan masih tersisa beberapa hari sampai 31 Mei 2026. Segera lapor, ya.