Ramadan dan Idulfitri hampir selalu datang dengan cerita yang sama dari tahun ke tahun di pasar, seperti harga pangan merangkak naik dan ongkos distribusi terasa lebih mahal. Inflasi musiman atau seasonal inflation memang kerap terjadi pada waktu-waktu tertentu di Indonesia, terutama saat Ramadan dan jelang hari-hari besar seperti Idulfitri, Iduladha, Natal dan Tahun Baru.
Pada periode Ramadan dan Idulfitri yang paling sering relevan terjadi adalah inflasi bulanan (month-to-month) karena lonjakan permintaan dan pasokan yang seringkali tidak memenuhi permintaan terjadi dalam rentang beberapa pekan. Dalam inflasi Ramadan biasanya banyak media massa memberitakan secara umum tanpa membedah komposisinya. Respon yang muncul seringkali sama yakni seolah semua harga naik merata dan solusinya cukup satu paket kebijakan.
Padahal, inflasi adalah gabungan dari beberapa komponen yang menyumbang inflasi. Secara sederhana, ada inflasi inti (core inflation) yang mencerminkan tren permintaan dan penawaran yang lebih stabil Ini dipengaruhi oleh ekspektasi, upah dan permintaan agregat. Kemudian, ada administered prices atau harga yang diatur oleh pemerintah dan volatile food atau jenis bahan pangan yang mudah bergejolak.
Pada bulan Ramadan, komponen volatile food cenderung mendapat tekanan yang jauh lebih besar. Harga pangan bergejolak dan sebagian jasa yang terkait mobilitas juga turut meningkat permintaannya karena tradisi mudik menjelang Idulfitri. Di sinilah Ramadan mejadi stress test yang menguji apakah ekosistem pangan dan logistik sanggup menampung lonjakan musiman tanpa membuat harga bergerak terlalu cepat. Dalam stress test yang diuji bukan sekadar apakah harga naik melainak seberapa tajam kenaikannya, berapa lama bertahan, dan seberapa cepat kembali normal setelah puncak permintaan lewat.
Ketika permintaan normal bertemu “friksi” pasokan
Permintaan yang naik di bulan Ramadan bukanlah kabar buruk, melainkan cerminan tradisi, pola konsumsi, dan aktivitas ekonomi yang meningkat. Tantangan muncul ketika lonjakan permintan yang bisa diprediksi bertemu dengan friksi pasokan yang berulang di mana produksi yang tidak selalu fleksibel, distribusi yang mahal, dan rantai pasok yang panjang. Di level komoditas, beberapa bahan pangan memang mudah sensitif seperti komoditas segar seperti cabai dan bawang yang sangat dipengaruhi cuaca dan pasokan harian. Lalu, protein hewani yang bergantung pada pakan, rantai dingin, dan distribusi cepat. Sementara, beras, gula dan minyak goreng dipengaruhi stok penyaluran, serta struktur pasar.
Ada tiga mekanisme yang sering membuat volatile food “meledak” di musim puncak. Pertama, lead time pasokan di mana lonjakan permintaan terjadi dalam hitungan haru, tetapi pasokan tidak selalu bisa merespons secepat itu. Bahkan, ketika stok nasional “cukup” yang menjadi permasalahan adalah stok di tempat dan waktu yang tepat. Keterlambatan beberapa hari di jalur distribusi saja dapat menggeser keseimbangan pasar komoditas segar
Kedua, biaya dan bottleneck distribusi. Menjelang lebaran, arus barang dan orang meningkat bersamaan. Jalur logistik bersaing dengan jalur mudik. Biaya angkut, ketersediaan armada, kemacetan, dan hambatan operasional dapat menciptakan “premium musiman” pada harga pangan, terutama di wilayah yang pasokannya bergantung pada luar daerah. Di sinilah inflasi musiman menjadi tidak seragam. Daerah defisit pasokan cenderung lebih rentan dibanding daerah sentra produksi.
Ketiga, ekspektasi dan perilaku pasar. Saat masyarakat paham bahwa harga akan cenderung naik, ekspektasi itu bisa menjadi ramalan yang terpenuhi sendiri. Konsumen membeli lebih awal untuk “mengamankan” harga dan pasokan. Pedagang pun kemudian menaikkan harga sedikit demi sedikit karena khawatir stok menipis atau harga beli selanjutnya bisa lebih tinggi. Di beberapa mata rantai ada ruang untuk menahan barang lebih lama. Tidak semua motifnya buruk, seringkali sifatnya hanya menahan saja. Tetapi, hasil akhirnya sama yakni volatilitas yang membesar.
Strategi preventif diperlukan untuk tangani inflasi musiman
Setiap tahunnya perangkat kebijakan stabilisasi harga biasanya hadir melalui koordinasi pusat dan daerah lewat TPIP/TPID, operasi pasar, penyaluran stok, fasilitas distribusi, hingga penegakan aturan perdagangan. Persoalannya adalah bukan hanya keberadaan instrumen penanganan inflasi saja, tetapi kapan dan seberapa presisi instrumen tersebut digunakan. Inflasi musiman kerap kali ditangani seperti "kebakaran” di saat harga-harga naik dan menjadi isu baru muncul respon dan bergerak. Padahal, Ramadan punya kalender yang jelas dan idealnya respon bisa mulai disusun sejak H-30. Untuk itu, kalender preventif diperlukan sebagai strategi penanganan dan bisa dibangun dengan tiga strategi..
Strategi pertama adalah peta risiko komoditas dan wilayah. Setiap daerah memiliki "komoditas pemicu" yang berbeda. Ada wilayah yang sensitif terhadap harga cabai, ada yang sensitif terhadap harga beras, dan ada yang sensitif terhadap harga daging atau telur. Peta ini perlu berbasis data harga harian atau mingguan dan disparitas antarwilayah. Dengan peta ini, intervensi tidak lagi bersifat generik melainkan berdasarkan target titik yang menyumbang gejolak inflasi.
Strategi kedua adalah manajemen stok dan arus barang yang terukur. Operasi pasar seharusnya bukan hanya “menggelontorkan barang”, tetapi memastikan barang tiba di pasar yang tepat sebab jam dan lokasi turut memengaruhi harga ritel. Stok buffer perlu disiapkan lebih awal, jalur distribusi dipastikan lancar termasuk koordinasi angkutan barang saat periode mudik, dan fasilitasi transportasi atau logistik diprioritaskan untuk komoditas yang paling sensitif.
Strategi ketiga adalah melakukan komunikasi publik yang kredibel untuk mengelola ekspektasi. Stabilitas harga bukan hanya soal barang, tetapi juga soal informasi. Ketika publik percaya stok tersedia dan distribusi lancar, dorongan untuk “panic buying” menurun dan pedagang tidak terdorong menaikkan harga defensif. Komunikasi yang efektif perlu spesifik pada komoditas apa yang disiapkan, di mana akan disalurkan, kapan puncak pasokan masuk, dan indikator apa yang dipantau. Transparansi ini membantu menambatkan ekspktasi yang pada akhirnya menahan volatilitas.
Pada akhirnya, ukuran sukses kebijakan Ramadan bukan seberapa keras intervensinya, melainkan seberapa kecil “gelombang” yang muncul. Ramadan akan selalu mengangkat permintaan karena itu adalah bagian dari denyut ekonomi dan sosial kita. Namun, negara juga punya kesempatan yang sama setiap tahun karena momennya dapat diprediksi dan persiapannya dapat terukur.
Jika inflasi Ramadan diperlakukan sebagai stress test, maka fokusnya bergeser dari drama tahunan menjadi perbaikan sistemik dengan memperkuat rantai pasok, menurunkan biaya logistik, memperpendek friksi distribusi, dan mengeksekusi intervensi lebih dini serta lebih presisi.