Penyelenggaraan MotoGP di Sirkuit Internasional Mandalika, Nusa Tenggara Barat (NTB), telah melampaui maknanya sebagai ajang balap motor semata. Di balik gemuruh mesin dan sorak penonton, tersimpan kisah tentang bagaimana ajang olahraga dunia mampu menggerakkan mesin pembangunan daerah dan mengubah wajah NTB menjadi pemain utama dalam industri pariwisata dan sport tourism nasional.
Tahun 2025 menjadi tonggak pencapaian tertinggi sejak gelaran ini pertama kali digelar pada 2022. Pemerintah memproyeksikan perputaran ekonomi mencapai Rp4,8 triliun, mencakup sektor akomodasi, transportasi, kuliner, hingga produk kreatif lokal. Pencapaian angka sebesar ini tentu sangat signifikan bagi perekonomian regional dan nasional.
MotoGP telah memberi formula kecepatan baru bagi pertumbuhan ekonomi NTB. Meski begitu, Mandalika masih menyimpan sejumlah pekerjaan rumah besar. Keberhasilan penyelenggaraan MotoGP bukan berarti seluruh persoalan pembangunan telah usai. Justru, ketika euforia event mereda, muncul pertanyaan baru: mampukah Mandalika menjaga denyut ekonominya secara mandiri dan berkelanjutan?
Menyalakan Mesin Pembangunan
Pembangunan Sirkuit Mandalika berawal dari mimpi besar pemerintah untuk menjadikan Nusa Tenggara Barat (NTB) sebagai pusat sport tourism nasional dan penggerak ekonomi kawasan timur Indonesia. Kawasan ini merupakan bagian dari Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, yang dikembangkan oleh Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) sebagai proyek strategis nasional dengan dukungan pembiayaan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Kementerian Keuangan, melalui berbagai instrumen fiskal dan kebijakan aset negara, berperan aktif sejak tahap awal pembangunan. Total nilai investasi yang dikucurkan dari APBN untuk proyek Mandalika mencapai sekitar Rp2,49 triliun, mencakup pembangunan lintasan balap, infrastruktur pendukung, serta fasilitas publik di sekitarnya. Dukungan ini tidak hanya ditujukan untuk menciptakan arena balap bertaraf internasional, tetapi juga untuk menghadirkan mesin pertumbuhan ekonomi daerah yang berbasis pariwisata dan industri kreatif.
Gelombang Multiplier Effect
Kini, visi besar itu mulai menunjukkan hasilnya, deru mesin MotoGP benar-benar menggema di lintasan Mandalika dan menjadi pemicu utama efek ganda (multiplier effect) bagi perekonomian NTB. Setiap gelaran menghadirkan motor ekonomi baru yang menjalar ke berbagai sektorβdari transportasi, akomodasi, tenaga kerja, UMKM hingga budaya lokal. Semua ini menjadi bukti bagaimana APBN benar-benar bekerja sebagai katalis pembangunan daerah.
1. Ledakan penonton. Untuk mencapai angka sirkulasi ekonomi yang fantastis, peningkatan jumlah penonton menjadi prasyarat utama. Dalam tiga tahun terakhir, jumlah penonton MotoGP Mandalika melonjak pesatβ102.929 orang (2023), 121.252 orang (2024), dan 140.324 orang (2025)βnaik 36,3%. Peningkatan animo yang masif ini berimplikasi langsung khususnya pada sektor transportasi dan akomodasi. Dinas Pariwisata NTB mencatat, seluruh hotel di kawasan KEK Mandalika terisi penuh, dengan tingkat okupansi rata-rata di wilayah NTB mencapai 93%, rekor tertinggi sepanjang penyelenggaraan MotoGP. Untuk mengakomodasi lonjakan wisatawan, Bandara Internasional Lombok juga menambah 44 penerbangan selama periode balapan. Sementara itu, PT ASDP Indonesia Ferry memproyeksikan kenaikan jumlah penumpang sekitar 30%.
Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa infrastruktur yang dibangun dengan dukungan APBN dan investasi pemerintah telah mengawali gelombang multiplier effect yang signifikan terhadap perekonomian NTB.
2. Menggerakkan Manusia. Dampak ekonomi tidak hanya tampak pada perputaran uang, tetapi juga pada penciptaan lapangan kerja. Lebih dari 2.000 tenaga kerja lokal terserap dalam berbagai sektor, mulai dari layanan kebersihan, keamanan, medis, transportasi, logistik, hingga dukungan operasional acara. Keterlibatan warga setempat memperkuat multiplier effect bagi perekonomian daerah, sekaligus membuka peluang peningkatan keterampilan bagi tenaga kerja muda NTB.
Pemberdayaan Sumber Daya Manusia (SDM) lokal tidak hanya terbatas pada kuantitas pekerjaan, tetapi juga peningkatan kualitas dan sertifikasi internasional. Bukti keberhasilan pelatihan SDM lokal terlihat dari fakta bahwa Marshall yang dilatih di Mandalika kini dapat diekspor sebagai Marshall ke sirkuit internasional lainnya, seperti Sepang. Hal ini menunjukkan bahwa MotoGP meninggalkan warisan keterampilan profesional yang bernilai tinggi bagi masyarakat NTB.
3. UMKM Naik Kelas. MotoGP Mandalika juga menjadi etalase global bagi 200 UMKM NTB. Dinas Koperasi dan UKM Provinsi NTB menyebutkan total omzet tahun ini mencapai Rp500 juta, naik Rp100 juta dibanding tahun 2024. Kehadiran ribuan penonton, baik dari dalam maupun luar negeri, membuka peluang besar bagi produk-produk lokal untuk dikenal dan dipasarkan secara luas. Selain keuntungan finansial, UMKM lokal juga mendapatkan pengalaman, jaringan, dan eksposur yang tak ternilai harganya. Hal ini tentunya menjadi bekal berharga untuk meningkatkan kualitas produk dan mengangkat potensi lokal ke kancah global.
4. Lintasan Budaya. Selain memberi dampak ekonomi, MotoGP Mandalika juga menjadi ajang promosi kebudayaan lokal Lombok. Beragam atraksi budaya, kuliner khas, dan pameran kerajinan memperkaya pengalaman penonton. Salah satu inisiatif penting yang diluncurkan adalah peresmian Lombok Sumbawa Museum of Civilization Mandalika di kawasan sirkuit pada 2 Oktober 2025 oleh Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal bersama CEO Dorna Sport Carmelo Ezpeleta. Museum ini memperkuat citra NTB sebagai destinasi pariwisata kelas dunia dengan memberikan pengalaman berbeda bagi penonton MotoGP. Mereka tidak hanya datang untuk menonton balapan, tetapi juga untuk mengenal lebih dalam peradaban Lombok dan Sumbawa.
Dibalik Euforia
Event MotoGP memang telah menjadi katalis yang mengguncang perekonomian NTB. Tetapi, di antara dampak positif itu, terselip tantangan yang tidak bisa diabaikanβdari risiko pertumbuhan sesaat, kesiapan ekosistem pariwisata yang belum matang, hingga beban biaya penyelenggaraan yang masih berat.
1. Boom and Bust. Meskipun dampak ekonomi jangka pendek MotoGP Mandalika sangat impresif, tersimpan risiko mendasar yang mengancam keberlanjutan ekonomi Mandalika. Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Andry Satrio Nugroho, menyatakan bahwa perekonomian di Mandalika cenderung βhanya hidup saat satu acara, yakni MotoGP." Fenomena ini mencerminkan pola boom and bust. Kondisi dimana terjadi lonjakan aktivitas ekonomi secara tiba-tiba saat event berlangsung (boom), namun kembali melambat bahkan lesu setelahnya (bust).
Kritik tersebut menegaskan bahwa fokus pemerintah perlu bergeser dari sekadar besarnya dampak selama penyelenggaraan event, menuju upaya menciptakan keberlanjutan ekonomi setelah MotoGP usai. Tanpa pariwisata yang hidup di luar kalender balapan, investasi besar yang telah ditanamkan berisiko tidak termanfaatkan secara optimal.
2. Fondasi yang Belum Kuat. KEK Mandalika masih menghadapi tantangan struktural dalam membangun ekosistem pariwisata yang matang dan berkelanjutan. Kualitas sumber daya manusia (SDM) di sektor pariwisata masih perlu ditingkatkan, terutama dalam hal profesionalisme dan literasi wisata. Sejumlah penonton mengeluhkan kenaikan harga yang tidak wajar pada sektor akomodasi, transportasi lokal, dan produk UMKM selama event berlangsung. Di sisi lain, sejumlah kendala infrastruktur seperti keterlambatan pembangunan Dermaga Kuta, turut menghambat konektivitas kawasan. Jika tidak segera diantisipasi, berbagai persoalan ini berpotensi menghambat transformasi Mandalika menjadi destinasi pariwisata yang kompetitif dan hidup sepanjang tahun.
3. Krisis Hosting Fee. Polemik hosting fee juga menjadi salah satu tantangan utama dalam penyelenggaraan MotoGP Mandalika. Pada 2024, angkanya mencapai 231,29 Miliar dan terus naik setiap tahunnya. Tentu saja itu menjadi salah satu beban signifikan bagi ITDC. Pemerintah Provinsi NTB pun secara terbuka menyatakan tidak memiliki kemampuan anggaran untuk ikut menanggung biaya tersebut, sementara tourism fund yang diharapkan menjadi solusi belum juga terealisasi. Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) menjelaskan bahwa rencananya hosting fee dari MotoGP Mandalika ingin dijadikan suatu momentum awal menggunakan dana abadi pariwisata. Namun karena masih dalam proses, pembiayaan penyelenggaraan MotoGP harus kembali lagi melalui dana BA BUN (Bagian Anggaran Bendahara Umum Negara) atau dana DIPA di Kementerian. Meski akhirnya intervensi APBN menjamin kelangsungan event, situasi ini menunjukkan bahwa penyelenggaraan MotoGP masih bergantung pada APBN dan belum sepenuhnya mandiri secara finansial untuk menggerakkan mesinnya sendiri.
Merancang Lintasan Panjang Ekonomi Mandalika
Keberlanjutan harus dirancang, bukan dibiarkan berjalan sendiri. Dari penyusunan kalender wisata, peningkatan kualitas manusia dan penguatan UMKM, hingga pembentukan instrumen pendanaan jangka panjang, setiap langkah kecil akan menentukan masa depan Mandalika sebagai destinasi ekonomi yang hidup tanpa jeda musim.
1. Mandalika 365. Keberhasilan sejati KEK Mandalika tidaklah diukur dari puncak perputaran uang selama tiga hari balapan, melainkan dari kemampuannya menjaga denyut ekonomi sepanjang tahun. Momentum MotoGP harus menjadi titik start untuk merancang kalender pariwisata 365 hari yang beragam, mulai dari festival musik, ajang olahraga, hingga perayaan budaya lokal. Diversifikasi ini penting untuk menjaga trafik wisatawan dan memaksimalkan pemanfaatan infrastruktur yang telah dibangun, sehingga Mandalika dapat bertransformasi dari lintasan balap musiman menjadi ekosistem pariwisata yang berkelanjutan.
2. Membangun Manusia. Peningkatan kapasitas SDM juga harus menjadi prioritas. Pemerintah perlu menyiapkan program pelatihan pariwisata berstandar internasional yang menanamkan nilai keramahan, profesionalisme dan kemampuan multibahasa. Di sisi lain, penguatan sektor UMKM perlu diarahkan pada peningkatan kualitas produksi, manajemen, dan pemasaran agar produk lokal memiliki standar mutu dan daya saing global. Kesadaran akan penerapan harga yang wajar (fair pricing) juga perlu ditanamkan kepada para pelaku usaha guna menjaga kepercayaan wisatawan dan citra positif Mandalika. Tidak bisa dipungkiri, UMKM menyumbang sekitar 61% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Oleh karena itu, dukungan terhadap UMKM melalui event besar seperti MotoGP sangat krusial, bukan sekadar pelengkap acara, melainkan salah satu strategi dalam memperkuat ekonomi rakyat. Dengan SDM yang andal dan UMKM yang unggul, Mandalika akan tumbuh sebagai ekosistem ekonomi yang inklusif dan kompetitif.
3. Dana Abadi Pariwisata. Indonesia Quality Tourism Fund (IQTF) atau Dana Abadi Pariwisata dari pemerintah yang sejak lama dipersiapkan, belum juga menemui titik terang. Percepatan pembentukannya menjadi langkah krusial untuk memperkuat ketahanan pariwisata nasional. Ditengah tingginya beban hosting fee dan keterbatasan ITDC dalam pendanaan mandiri, IQTF dapat menjadi solusi strategis untuk menjaga kontinuitas event dan pengembangan destinasi tanpa ketergantungan berlebih pada APBN. Kehadiran IQTF diharapkan menjadi bahan bakar baru yang mendorong Mandalika dan destinasi wisata lain tumbuh dengan kemandirian dan kualitas tinggi.
Beyond The Race: Moto GP dan Mimpi Ekonomi yang tak terhenti
MotoGP Mandalika telah membuktikan bahwa deru mesin di lintasan bisa menjadi energi bagi pembangunan. Di balik gemuruh tiga hari balapan, ada denyut ekonomi daerah yang digerakkan: ribuan pekerja terserap, UMKM naik kelas, hingga perputaran ekonomi mencapai Rp4,8 triliun.
Meski keberhasilannya patut diapresiasi, tantangan nyata masih membayangi. Perekonomian Mandalika belum sepenuhnya stabil dan masih bergantung pada satu event besar, sementara krisis pembiayaan menunjukkan rapuhnya kemandirian finansial pengelola. Karena itu, pemerintah perlu menjaga agar mesin ekonomi ini tak meredup melalui penguatan kalender wisata, peningkatan kualitas SDM, dan pembentukan dana abadi pariwisata.
Pada akhirnya, mimpi besar yang sesungguhnya bukan diukur dari seberapa cepat motor melaju di Mandalika, melainkan seberapa jauh manfaat ekonominya. Jika pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan mampu menjaga mesin ini tetap menyala, maka deru mesin MotoGP akan terus terjaga.
Disclaimer: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mewakili pandangan organisasi
Referensi
- Dukungan Pertamina untuk Proyeksi Ekonomi Rp 4,8 Triliun di MotoGP Mandalika 2025, https://www.tempo.co/info-tempo/dukungan-pertamina-untuk-proyeksi-ekonomi-rp-4-8-triliun-di-motogp-mandalika-2025-2074682
- Ekonomi di Mandalika Hanya Hidup saat MotoGP, Ekonom Ungkap Beberapa Masalah, https://www.tempo.co/ekonomi/ekonomi-di-mandalika-hanya-hidup-saat-motogp-ekonom-ungkap-beberapa-masalah-135562
- MotoGP Mandalika Catat Total Penonton 140 ribu, Ekonomi NTB Terdampak Signifikan, https://swa.co.id/read/464576/motogp-mandalika-catat-total-penonton-140-ribu-ekonomi-ntb-terdampak-signifikan
- Pembangunan Dermaga Kuta Mandalika Molor, kok Bisa?, https://lombokpost.jawapos.com/praya/1506669353/pembangunan-dermaga-kuta-mandalika-molor-kok-bisa
- Penumpang Kapal Penyeberangan Diprediksi Naik 30% Jelang MotoGP Mandalika, https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-8140304/penumpang-kapal-penyeberangan-diprediksi-naik-30-jelang-motogp-mandalika
- 2 Tantangan Utama Membangun Ekosistem Pariwisata Berkelanjutan di Indonesia, https://www.liputan6.com/lifestyle/read/6143061/2-tantangan-utama-membangun-ekosistem-pariwisata-berkelanjutan-di-indonesia?page=4