Dalam psikologi, dikenal istilah primacy effect, yaitu informasi pertama yang kita terima sering kali menjadi jangkar bagi cara kita memahami informasi berikutnya. Karena itu, hoaks yang lebih dulu hadir di ruang digital kerap lebih mudah membentuk persepsi publik dibanding klarifikasi resmi yang datang belakangan.
Kondisi ini menjadi tantangan serius di era digital. Informasi tentang keuangan negara kini menyebar dengan sangat cepat. Bukan hanya melalui media berita, tetapi juga melalui berbagai platform media sosial seperti TikTok, Instagram, Facebook, X, hingga grup percakapan. Karakter media sosial yang cepat, visual, singkat, dan mudah viral membuat informasi lebih mudah menjangkau masyarakat. Namun di sisi lain, karakter tersebut juga membuat ruang digital rentan menjadi tempat penyebaran informasi yang keliru.
Dalam banyak kasus, hoaks justru lebih mudah menarik perhatian karena dikemas dengan judul dan narasi sederhana, namun emosional. Sementara itu, informasi resmi sering kali membutuhkan penjelasan yang lebih utuh, karena harus disampaikan dengan data, konteks, dan kehati-hatian. Akibatnya, masyarakat dapat lebih dulu terpapar narasi yang keliru sebelum memperoleh penjelasan yang benar.
Isu keuangan negara menjadi salah satu tema yang cukup sering disasar. Hoaks atau informasi menyesatkan tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau APBN, pajak, utang negara, bantuan sosial, isu ekonomi hingga rekrutmen aparatur sipil negara kerap muncul dalam berbagai bentuk.
Ada narasi yang menyebut seolah-olah masyarakat diminta βpatungan APBNβ untuk membantu negara melunasi utang. Ada pula informasi palsu mengenai pendaftaran CPNS yang mengatasnamakan Kementerian Keuangan. Tidak jarang juga beredar klaim tentang bantuan hibah atau bantuan sosial yang mencatut nama Kemenkeu atau Menteri Keuangan.
Sekilas, informasi semacam itu bisa terlihat meyakinkan. Apalagi jika disertai logo Kemenkeu, tangkapan layar, tautan tertentu, atau kalimat ajakan yang mendesak. Namun, justru di titik itulah masyarakat perlu lebih berhati-hati. Dalam ruang digital, tampilan yang rapi tidak selalu berarti informasi tersebut benar. Logo resmi bisa dicatut, tautan bisa dibuat menyerupai situs asli, dan narasi yang meyakinkan belum tentu berasal dari sumber yang dapat dipercaya.
Dampak hoaks keuangan negara tidak bisa dianggap ringan. Informasi yang keliru dapat membentuk persepsi negatif dan pada akhirnya, menurunkan kepercayaan publik terhadap Kemenkeu. Di sinilah peran Kementerian Keuangan menjadi penting. Sebagai pengelola keuangan negara, Kementerian Keuangan tidak hanya berperan dalam menyusun dan mengelola APBN, tetapi juga memastikan masyarakat mendapatkan informasi yang benar, mudah dipahami, dan dapat dipercaya. Komunikasi publik menjadi bagian penting dari upaya menjaga kepercayaan masyarakat terhadap pengelolaan keuangan negara.
Dalam menghadapi hoaks, respons cepat menjadi hal yang penting. Ketika sebuah isu mulai viral, klarifikasi perlu segera hadir agar masyarakat memiliki rujukan resmi. Informasi yang benar harus tersedia di ruang publik sebelum narasi keliru semakin meluas. Namun, klarifikasi cepat saja tidak cukup. Penjelasan juga perlu disampaikan dengan bahasa yang sederhana, visual yang mudah dipahami, dan konteks yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Selain respons cepat, komunikasi berbasis data juga menjadi kunci. Isu keuangan negara sering kali kompleks, sehingga tidak cukup dijawab dengan bantahan singkat. Masyarakat perlu memperoleh penjelasan mengenai duduk perkara, data pendukung, serta alasan di balik suatu kebijakan. Dengan begitu, publik tidak hanya mengetahui bahwa suatu informasi keliru, tetapi juga memahami mengapa informasi tersebut tidak tepat.
Kanal digital resmi memiliki peran besar dalam upaya ini. Media sosial resmi Kementerian Keuangan, laman resmi, publikasi APBN Kita, serta kanal Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi atau PPID dapat menjadi rujukan masyarakat ketika menemukan informasi yang meragukan. Melalui kanal-kanal tersebut, masyarakat dapat membandingkan informasi yang beredar dengan penjelasan resmi dari institusi yang berwenang.
Namun, melawan hoaks tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah. Masyarakat juga memiliki peran penting sebagai pengguna sekaligus penyebar informasi. Sebelum membagikan informasi, ada baiknya kita berhenti sejenak dan memeriksa sumbernya. Apakah informasi tersebut berasal dari kanal resmi? Apakah tautannya benar? Apakah ada pengumuman dari instansi terkait? Apakah narasinya terlalu mendesak, memancing emosi, atau meminta data pribadi? Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti ini dapat menjadi langkah awal untuk mencegah penyebaran hoaks. Bukan berarti masyarakat harus curiga terhadap semua informasi, tetapi perlu membiasakan diri untuk tidak langsung percaya.
Karena itu, solusi jangka panjang dalam melawan hoaks keuangan negara adalah memperkuat literasi fiskal masyarakat. Literasi fiskal bukan berarti setiap orang harus menjadi ahli anggaran. Literasi fiskal berarti masyarakat memahami dasar-dasar bagaimana uang negara diperoleh, dikelola, dan digunakan untuk kepentingan publik.
Pada akhirnya, kepercayaan publik tidak hanya dibangun melalui kebijakan yang tepat, tetapi juga melalui komunikasi yang cepat, terbuka, dan mudah dipahami. Pemerintah perlu hadir dengan informasi yang jelas, sementara masyarakat perlu membangun kebiasaan untuk memeriksa sebelum membagikan. Hoaks boleh datang lebih cepat, tetapi kebenaran harus hadir lebih kuat. Dengan komunikasi yang terbuka, data yang jelas, kanal resmi yang mudah diakses, dan masyarakat yang semakin cerdas, ruang digital dapat menjadi tempat edukasi, bukan sekadar arena penyebaran disinformasi. Sebab dalam keuangan negara, menjaga kebenaran informasi berarti menjaga kepercayaan publik.