Dunia sedang menghadapi krisis ekonomi, disrupsi teknologi, dan perang data yang semakin kompleks, tetapi perhatian manusia justru tersandera hiburan digital tanpa henti. Ketika layar ponsel lebih menarik daripada realitas, mungkin yang sedang krisis bukan hanya ekonomi dunia, melainkan juga kesadaran publik.
Setiap pagi, banyak orang memulai hari dengan cara yang hampir sama. Sebelum benar-benar sadar sepenuhnya, tangan lebih dulu meraih ponsel, membuka media sosial, lalu tenggelam dalam video pendek yang tidak terasa terus berganti. Satu video lewat, muncul video lain. Tanpa sadar, waktu berjalan begitu cepat.
Di saat yang sama, dunia sebenarnya sedang bergerak dalam ketidakpastian. Ekonomi global melambat, harga kebutuhan pokok naik di banyak negara, dan persaingan teknologi semakin keras. Persoalan itu terdengar jauh, tetapi dampaknya pelan-pelan terasa dalam kehidupan sehari-hari: biaya hidup meningkat, lapangan kerja makin kompetitif, dan kecemasan sosial ikut bertambah.
Beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa situasi dunia memang tidak sedang baik-baik saja. Konflik geopolitik belum benar-benar mereda, perang dagang terus berlangsung, sementara rivalitas teknologi antara Amerika Serikat dan Tiongkok semakin terbuka. Persaingan hari ini bukan hanya soal siapa paling kuat secara militer atau ekonomi, tetapi siapa yang mampu menguasai teknologi, data, dan kecerdasan buatan.
Artificial Intelligence atau AI berkembang sangat cepat. Banyak pekerjaan mulai berubah, bahkan sebagian mulai tergantikan otomatisasi. Perusahaan-perusahaan teknologi dunia melakukan efisiensi besar-besaran. Gelombang PHK di sektor digital beberapa waktu terakhir menjadi tanda bahwa perubahan sedang terjadi lebih cepat daripada kesiapan manusia menghadapinya.
Di tengah perubahan besar itu, media sosial justru menjadi tempat pelarian paling nyaman bagi banyak orang. TikTok, Instagram Reels, dan berbagai platform video pendek menawarkan hiburan tanpa jeda. Algoritma bekerja begitu halus membaca kebiasaan pengguna, lalu menyajikan konten yang terasa paling sesuai dengan minat masing-masing.
Tidak sedikit orang merasa hanya menonton video biasa. Padahal, di balik layar, platform digital sedang mengumpulkan data dalam jumlah besar. Setiap tontonan, pencarian, komentar, bahkan durasi seseorang berhenti di sebuah video menjadi informasi berharga yang dapat dipetakan menjadi perilaku.
Hari ini, data telah menjadi komoditas ekonomi baru. Perusahaan teknologi global memahami bahwa perhatian manusia adalah sesuatu yang sangat bernilai. Semakin lama seseorang bertahan di aplikasi, semakin besar keuntungan yang diperoleh platform digital melalui iklan dan pengelolaan data pengguna.
Karena itu, tidak mengherankan jika media sosial dirancang membuat orang terus kembali. Konten dibuat singkat, cepat, dan memancing emosi agar mudah dikonsumsi. Akibatnya, banyak orang merasa sulit melepaskan diri dari kebiasaan scrolling tanpa akhir.
Fenomena ini kemudian melahirkan budaya digital yang serba instan. Banyak orang ingin selalu mengikuti tren agar tidak dianggap tertinggal. Budaya Fear of Missing Out atau FOMO semakin kuat. Apa yang viral terasa harus segera diketahui, ditonton, bahkan dibeli.
Ekonomi digital memang membawa banyak peluang baru. Media sosial membuka ruang usaha bagi UMKM, menciptakan profesi kreator konten, hingga melahirkan pola bisnis baru seperti live shopping dan affiliate marketing. Banyak anak muda berhasil mendapatkan penghasilan dari ruang digital yang sebelumnya tidak pernah dibayangkan.
Namun di balik pertumbuhan itu, ada persoalan lain yang sering luput dibicarakan, yaitu menurunnya kualitas perhatian publik. Masyarakat semakin terbiasa menerima informasi secara singkat dan cepat. Tulisan panjang dianggap melelahkan, diskusi mendalam terasa membosankan, sementara hiburan instan jauh lebih menarik.
Pelan-pelan, kebiasaan itu memengaruhi cara masyarakat memahami persoalan. Informasi penting sering kalah oleh sensasi. Isu ekonomi, pendidikan, atau kebijakan publik tenggelam di tengah banjir konten hiburan dan drama digital.
Kita hidup di zaman ketika semua orang bisa berbicara, tetapi tidak semua benar-benar mendengar. Media sosial membuat masyarakat cepat bereaksi, tetapi sering kali lambat memahami konteks. Akibatnya, hoaks mudah menyebar, polarisasi semakin tajam, dan ruang publik dipenuhi perdebatan yang melelahkan.
Ironisnya, di tengah akses informasi yang begitu luas, kesadaran publik tidak selalu tumbuh sejalan. Banyak orang mengetahui banyak hal secara permukaan, tetapi jarang benar-benar memahami persoalan secara utuh. Dunia digital membuat manusia merasa selalu terhubung, padahal belum tentu benar-benar peduli.
Dalam konteks ekonomi, persoalan ini menjadi penting. Masa depan tidak lagi hanya ditentukan oleh siapa yang memiliki modal besar, tetapi juga siapa yang mampu beradaptasi terhadap perubahan teknologi. Kemampuan berpikir kritis, fokus, dan memahami informasi akan menjadi keterampilan yang semakin berharga.
Indonesia sebenarnya memiliki peluang besar di era ekonomi digital. Jumlah pengguna internet terus meningkat dan bonus demografi menjadi modal penting bagi pertumbuhan ekonomi masa depan. Namun peluang itu bisa berubah menjadi tantangan apabila masyarakat hanya menjadi konsumen hiburan digital tanpa membangun kualitas literasi yang memadai.
Teknologi pada dasarnya bukan musuh. Media sosial juga bukan sesuatu yang sepenuhnya salah. Persoalannya adalah bagaimana manusia mengendalikan teknologi, bukan justru dikendalikan olehnya.
Kita tentu tidak harus berhenti membuka TikTok atau meninggalkan media sosial sepenuhnya. Tetapi di tengah dunia yang sedang berubah cepat, publik tetap membutuhkan ruang untuk berpikir lebih dalam, memahami realitas, dan menjaga kesadaran agar tidak larut dalam distraksi tanpa akhir.
Sebab ketika manusia terlalu sibuk tenggelam dalam hiburan digital, yang perlahan hilang bukan hanya fokus dan produktivitas, tetapi juga kemampuan memahami arah perubahan zaman. Dunia memang sedang tidak baik-baik saja. Pertanyaannya, apakah kita masih cukup peduli untuk menyadarinya?