Selama bertahun-tahun kita mengenal dan mengamini berbagai ajaran moral yang dituangkan dalam bentuk perumpamaan atau adagium. Salah satu yang paling terkenal dalam konteks keuangan ialah ungkapan, βhemat pangkal kayaβ yang secara tersirat mengajarkan pentingnya mengelola keuangan dengan baik guna masa depan yang makmur dan sejahtera secara finansial. Adagium ini semakin relevan terutama di tengah dinamika global dan kondisi lokal yang penuh ketidakpastian. Pilihan menahan belanja (berhemat) menjadi suatu keniscayaan.
Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, bagaimana jika semua orang menahan belanjanya?. Apa dampaknya bagi negara? John Maynard Keynes (1883β1946), seorang ekonom asal Inggris yang dianggap sebagai Bapak Makroekonomi Modern mempopulerkan teori Paradox of Thrift melalui buku monumentalnya, The General Theory of Employment, Interest, and Money, yang diterbitkan pada tahun 1936.
Teori Paradox of Thrift menggambarkan bahwa meskipun menabung adalah suatu kebajikan bagi individu, namun, upaya kolektif untuk menabung terutama di tengah krisis atau ekonomi yang melemah justru bisa memperburuk keadaan ekonomi secara keseluruhan. Dalam ekonomi Keynesian, belanja diungkapkan sebagai motor penggerak pertumbuhan. Menabung memang baik untuk masa depan, tetapi jika dilakukan terlalu berlebihan secara serentak di saat ekonomi lesu menjadi "racun" bagi pemulihan ekonomi.
Bagaimana bisa?
Pemerintah melalui Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, pada Rabu, 8 April 2026 menyampaikan bahwa komponen konsumsi menyumbang 54 persen atau lebih dari setengah Produk Domestik Bruto (PDB) Per akhir kuartal I tahun 2026.
Disini dapat kita amati bahwa sejalan dengan persamaan ala Keynes, Gross Domestic Product (Y) = Consumption (C) + Investment (I) + Government Spending (G) + Net Exports (X - M) atau yang dikenal sebagai Pendekatan Pengeluaran , dapat kita simpulkan bahwa segala bentuk pengeluran rumah tangga yang kita lakukan, mulai dari membeli beras, pulsa, baju, hingga biaya sekolah, servis kendaraan, dan lain sebagainya sangat berdampak pada resiliensi ekonomi nasional terutama pada komponen konsumsi.
Jika semua individu yang adalah penyumbang proporsi lebih dari setengah PDB ini menjadi βsangat berhematβ, maka total konsumsi (C) akan terkontraksi signifikan yang berdampak pada turunnya pendapatan nasional (Y). Lebih parahnya lagi, pelemahan konsumsi ini dapat memicu penurunan investasi (I) yang berkorelasi dengan penyerapan tenaga kerja di berbagai sektor. Tanpa adanya belanja, mesin ekonomi ini tidak akan bergerak jauh atau bahkan melaju ke belakang, menarik investasi ke bawah, meningkatkan risiko pengurangan tenaga kerja. Boom!
Belanja yang kita lakukan juga secara langsung maupun tidak langsung menyumbang pada komponen belanja pemerintah (G) melalui pajak yang ada disetiap struk belanjaan kita. Semuanya akan terakumulasi menjadi mesin penggerak belanja pemerintah yang seyogyanya kembali masuk ke perekonomian dalam bentuk belanja produktif yang idealnya memberikan "efek pengganda" (multiplier effect) pada perekonomian, seperti pembangunan Infrastruktur, peningkatan pendidikan dan pengembangan SDM, kesehatan publik, pemberian subsidi tepat sasaran, dan lain sebagainya.
Belanja yang kita lakukan juga sedapat mungkin diarahkan pada pemberdayaan UMKM atau produk lokal dengan harapan dapat membuat para UMKM ini memiliki modal dan pengalaman untuk survive, syukur-syukur dapat naik kelas untuk dapat melakukan ekspor (X) sehingga mendorong PDB itu sendiri, tidak bergantung pada barang impor (M).
Belanja yang seperti apa?
Patut kita sadari bahwa Keynes disini tidak sedang mengajarkan kita untuk belanja secara ugal-ugalan atau terjebak dalam konsumerisme brutal. Ia sendiri mencetuskan teori motif utama permintaan uang yakni untuk berjaga-jaga sebagai gambaran bahwa uang sangat diperlukan untuk mengantisipasi belanja-belanja yang terduga atau dana darurat.
Belanja yang ideal ialah belanja berdasarkan skala prioritas dan didasarkan pada pertimbangan yang matang. Patut kita sadar bahwa belanja yang kita lakukan di lapak-lapak pasar, di pinggir-pinggir jalan, hingga pusat-pusat perbelanjaan ini bukan sekadar belanja untuk keperluan individual, tetapi dapat dimaknai sebagai akumulasi sumber daya secara menyeluruh dari seluruh komponen anak bangsa guna mendorong ketahanan ekonomi nasional.
Survei Konsumen Bank Indonesia per Maret 2026 menunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) berada pada level optimis sebesar 122,9. Ini mengisyaratkan bahwa mayoritas masyarakat merasa kondisi ekonomi saat ini serta ekspektasi ekonomi ke depan masih sangat baik yang mana banyak orang merasa optimis, dan cenderung lebih berani untuk membelanjakan uangnya (konsumsi) di tengah kondisi ini. Jadi, kamu, kita tidak sendiri.
Akhrinya, sampailah pada titik dimana kita perlu memberi arti kembali pada adagium lama, 'Hemat Pangkal Kaya'. Bukan lagi sebagai adagium yang berdiri sendiri, tetapi menjadi suatu kesatuan baru menjadi βHemat pangkal kaya bagi diri, Belanja bijak pangkal kaya bagi ekonomi Negeriβ, semoga.