Pelaksanaan anggaran negara tidak hanya ditentukan oleh besarnya alokasi, tetapi juga oleh waktu dan pola realisasinya. Anggaran yang telah ditetapkan belum serta-merta menghasilkan manfaat apabila pelaksanaannya tertunda atau terkonsentrasi pada akhir tahun. Oleh karena itu, dorongan untuk mempercepat belanja sejak awal tahun menjadi bagian penting dalam meningkatkan efektivitas APBN sebagai instrumen pertumbuhan, perlindungan sosial, dan pelayanan publik.
Dalam Rapat Berkala KSSK II Tahun 2026, pemerintah memperkenalkan istilah quick-high untuk menggambarkan pola belanja yang lebih cepat dan lebih tinggi sejak awal tahun. Pendekatan ini diarahkan untuk mengubah kecenderungan slow-low, yaitu realisasi yang relatif lambat dan rendah pada periode awal, kemudian meningkat tajam menjelang akhir tahun. Hingga triwulan I 2026, realisasi belanja negara mencapai Rp815,0 triliun atau tumbuh 31,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut ditujukan agar belanja lebih merata sepanjang tahun dan menghasilkan multiplier effect yang lebih kuat bagi perekonomian.
Dalam bahasa yang lebih sederhana, semangat quick-high dapat dipahami sebagai upaya membuat APBN bekerja from day one. Program yang telah direncanakan diharapkan dapat segera bergerak, bukan menunggu hingga ruang pelaksanaan semakin sempit. Belanja negara kemudian diterjemahkan lebih awal menjadi layanan publik, bantuan sosial, pembangunan infrastruktur, pengadaan barang dan jasa, serta berbagai program prioritas yang manfaatnya dapat dirasakan masyarakat.
Dari kacamata seorang desainer, pendekatan ini mengingatkan saya pada cara menyusun sebuah presentasi. Presentasi yang baik tidak menyimpan seluruh gagasan pentingnya pada beberapa slide terakhir. Sejak awal, audiens perlu memperoleh arah, konteks, dan alasan untuk terus mengikuti. Sebuah pembuka perlu hit the ground running. Bukan berarti seluruh informasi ditampilkan sekaligus, tetapi struktur, ritme, dan tujuan utamanya sudah mulai bekerja sejak halaman pertama.
Prinsip serupa berlaku pada penyusunan editorial plan sebuah majalah. Sebuah majalah yang baik tidak menaruh seluruh artikel terbaiknya di bagian akhir, sambil membiarkan halaman-halaman awal terasa lemah atau sekadar pengisi. Halaman awal, tengah, dan akhir memiliki fungsi yang berbeda, tetapi sama-sama penting dalam membangun pengalaman membaca yang utuh. Bagian awal menarik perhatian dan memberi arah. Bagian tengah menjaga ritme dan memperdalam isi. Bagian akhir menguatkan kesan dan menyelesaikan perjalanan pembaca. Dalam pelaksanaan APBN, logika yang serupa juga berlaku. Belanja negara yang efektif bukanlah belanja yang menumpuk di penghujung tahun, melainkan belanja yang mulai bekerja sejak awal, menjaga momentum di tengah, dan tetap kuat hingga akhir.
Ellen Lupton pernah menulis, “Working within the constraints of a problem is part of the fun and challenge of design.” Dalam desain, keterbatasan bukan hanya hambatan, melainkan kondisi yang mendorong lahirnya keputusan yang lebih terarah. Keterbatasan ruang, waktu, dan perhatian mengharuskan desainer menentukan struktur serta prioritas. APBN juga bekerja di dalam batas tertentu. Ruang fiskal tidak tak terbatas, kebutuhan publik terus berkembang, sementara ketidakpastian ekonomi tetap harus diantisipasi. Oleh karena itu, percepatan belanja tidak dapat dipisahkan dari ketepatan sasaran, efisiensi, serta pengendalian risiko fiskal.
Istilah zero to sixty dapat digunakan untuk menggambarkan unsur akselerasi dalam pendekatan quick-high. Namun, belanja negara tentu tidak dapat diperlakukan seperti kendaraan yang sekadar diminta melaju secepat mungkin. Akselerasi membutuhkan kesiapan program, kejelasan regulasi, koordinasi antarlembaga, proses pengadaan, dan kapasitas pelaksana. Tanpa fondasi tersebut, percepatan hanya akan memindahkan persoalan dari akhir tahun ke awal tahun. Dengan demikian, kata quick perlu selalu dibaca bersama kualitas perencanaan dan pelaksanaan.
Di sinilah prinsip first things first menjadi relevan. Dalam proses desain, seorang desainer perlu memastikan struktur dasar telah bekerja sebelum beralih pada warna, ilustrasi, atau animasi. Pesan harus jelas, materi harus siap, dan hierarki perlu ditentukan terlebih dahulu. Dalam pelaksanaan APBN, percepatan belanja juga bergantung pada berbagai persiapan yang dilakukan sebelum tahun anggaran berjalan. Quick-high pada dasarnya bukan sekadar agenda Januari, melainkan hasil dari perencanaan yang telah dimatangkan lebih awal.
Percepatan yang dirancang dengan baik juga memungkinkan pemerintah berada lebih ahead of the curve. Ketika program berjalan sejak awal tahun, manfaatnya memiliki waktu yang lebih panjang untuk memengaruhi aktivitas ekonomi. Dalam siaran pers KSSK, akselerasi belanja pemerintah disebut turut mendorong konsumsi rumah tangga dan investasi, serta diharapkan memberikan multiplier effect yang lebih kuat pada periode berikutnya. Program seperti Makan Bergizi Gratis, Sekolah Rakyat, bantuan sosial, subsidi, pembangunan jalan, irigasi, serta berbagai program prioritas menjadi bagian dari transmisi belanja negara menuju aktivitas ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
Meski demikian, pembuka yang kuat harus diikuti kemampuan untuk keep the momentum. Pola quick-high tidak seharusnya dimaknai sebagai realisasi yang tinggi pada awal tahun, tetapi kemudian kehilangan daya pada periode berikutnya. Tujuannya adalah menciptakan pola yang lebih konsisten dan merata, dengan kualitas yang tetap terjaga hingga akhir tahun. Dengan kata lain, pelaksanaan anggaran perlu mampu memulai lebih cepat sekaligus finish strong.
Stefan Sagmeister mengatakan, “Good design is design that either helps people or delights people.” Dalam konteks APBN, ukuran keberhasilan tentu tidak berhenti pada tingginya angka realisasi. Belanja negara perlu membantu masyarakat melalui layanan yang lebih baik, perlindungan daya beli, stabilisasi harga, peningkatan produktivitas, dan pembangunan infrastruktur. Kecepatan menjadi bernilai ketika ia mempercepat hadirnya manfaat. Tanpa dampak yang nyata, quick-high hanya akan menjadi grafik yang meningkat lebih awal, tetapi belum tentu bermakna bagi publik.
Pada akhirnya, pendekatan quick-high menunjukkan bahwa waktu merupakan bagian penting dari kualitas belanja. Nilai sebuah anggaran tidak hanya ditentukan oleh berapa banyak yang dialokasikan, tetapi juga kapan dan bagaimana ia diwujudkan. Dari sudut pandang desain, sebuah karya yang baik mulai bekerja sejak pandangan pertama, kemudian menjaga ritmenya hingga bagian terakhir. Demikian pula APBN: bergerak lebih cepat sejak awal, menjaga kualitas sepanjang pelaksanaan, dan memastikan setiap rupiah memberi dampak yang nyata bagi masyarakat.