Tegakkan Kepalamu, Hadapi Saja!


Berita yang beredar, ekonomi Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Beberapa pengamat mengatakan tertekannya nilai tukar rupiah, rontoknya pasar saham, menurunnya daya beli, dan anomali penerimaan APBN menunjukkan kondisi tersebut.

Rupiah masih terpuruk babak belur dihantam keperkasaan dolar AS. Nilai tukar rupiah sesuai data per 25/3 tercatat Rp16.611 per dolar AS. Nilai ini menjadi yang terendah sejak 1998 saat krisis ekonomi melanda.

Situasi ini terjadi pasca naiknya Donald Trump sebagai Presiden AS dengan berbagai kebijakan kontroversialnya. The Fed ikut-ikutan menahan suku bunga sehingga dolar menguat. Imbasnya mata uang negara-negara lain terpukul. Yang terbaru, tarif resiprokal di terapkan ke hampir semua negara oleh Trump.

Dolar yang menguat, secara teori mengakibatkan impor menjadi lebih mahal. Harga barang impor dengan nilai tukar dalam dolar menjadi lebih mahal ketika dikonversi ke dalam rupiah. Apalagi Indonesia termasuk negara yang banyak bergantung pada impor untuk beberapa barang dan jasa, seperti minyak mentah, barang konsumen, atau alat teknikal tertentu. Itu berarti ketika impor semakin mahal, akan menyebabkan kenaikan harga secara umum(inflasi) di dalam negeri.

Pun demikian dengan pembayaran hutang luar negeri, sangat dipengaruhi oleh nilai tukar dalam dolar. Ketika dolar menguat, nilai hutang ini dalam mata uang lokal akan meningkat. Hal ini akan memberi dorongan tekanan pada keuangan pemerintah dan perusahaan-perusahaan yang memiliki hutang luar negeri. Negara atau perusahaan harus membayar lebih banyak dalam mata uang lokal untuk pembayaran hutang dalam dolar. 

Dolar yang menguat berimplikasi pada neraca perdagangan Indonesia. Daya saing ekspor Indonesia kemungkinan besar akan menurun. Ini terjadi karena barang ekspor Indonesia yang diukur dalam dolar akan menjadi lebih mahal bagi negara-negara lain. Jika dolar terus naik bisa berdampak negatif pada neraca perdagangan nasional sehingga berpotensi mengurangi pertumbuhan ekonomi.

Penguatan dolar terhadap rupiah dapat mempengaruhi aliran investasi asing ke Indonesia. Ketika dolar menguat, investor asing cenderung menarik investasi mereka dari pasar saham. Arus modal keluar bisa saja membuat rupiah semakin anjlok,  menurunkan harga saham dan obligasi di pasar keuangan. 

Kenaikan dolar menyebabkan industri yang sangat bergantung pada impor bahan baku, seperti industri industri otomotif dan manufaktur menghadapi kenaikan biaya produksi ketika dolar menguat. Biaya produksi yang meningkat mengakibatkan harga jual produk lebih tinggi yang akan berpengaruh pada kinerja penjualan.

Jelas sekali penguatan dolar memberi dampak yang tidak baik bagi perekonomian Indonesia. Daya beli masyarakat menurun, dan pertumbuhan  ekonomi bisa melambat. Selain itu berkurangnya kepercayaan investor dan konsumen menyebabkan penurunan angka investasi dan konsumsi. 

Pengaruh kenaikan dolar akan menekan neraca perdagangan dan aliran modal keluar yang menyebabkan defisit pada neraca transaksi berjalan. Defisit yang tidak terkendali bisa menyebabkan pelemahan lebih lanjut pada rupiah, rontoknya pasar saham, dan meningkatkan ketidakstabilan ekonomi. 

Ketidakstabilan ekonomi yang berlanjut tentu saja akan mempengaruhi sisi penerimaan negara. Jika penerimaan negara terjadi anomali atau bahkan dikatakan penerimaan negara berkurang, maka target pembangunan bisa saja tidak tercapai.

 

Lalu, apa yang seharusnya dilakukan? 

Tatkala Ole Romeny, penyerang timnas Indonesia berhasil menyarangkan gol ke gawang Australia dan Bahrain, langsung merayakan dengan selebrasi khas. Tangannya diletakkan di bawah dagu sambil menegakkan kepala. 

Sang penyerang yang baru-baru ini bergabung dengan timnas itu mengatakan selebrasi golnya memiliki pesan untuk selalu 'menegakkan kepala' meski kondisi sedang sulit.

"Selebrasinya agar selalu menegakkan kepala, selalu bekerja keras, bagi anak-anak muda Indonesia dan semuanya, ketika kita sedang dalam situasi sulit, kita harus tetap menegakkan kepala," tegas Romeny.

Pesan itu relevan dengan kondisi ekonomi yang dihadapi Indonesia saat ini. 

Optimisme terus digaungkan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. Meskipun kondisi ekonomi global masih dipenuhi ketidakpastian, prospek pertumbuhan ekonomi  pada kuartal pertama tahun 2025 menunjukkan kinerja baik. 

Setidaknya terdapat ada dua indikator utama yang menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap positif.

Indikator pertama, ternyata neraca perdagangan Indonesia masih surplus sebesar USD 3,12 miliar pada Februari 2025. Tren positif yang masih berlanjut selama 58 bulan berturut-turut sejak pandemi COVID-19, menunjukkan keberhasilan Indonesia dalam menjaga daya saingnya di pasar global.

Indikator kedua adalah peningkatan dalam aktivitas sektor manufaktur, yang tercermin dalam angka Purchasing Managers Index (PMI) yang mencapai 53,6 pada Februari 2025. Data resmi Bank Indonesia (BI) per 20 Maret 2025,  Moody’s menyatakan bahwa daya saing sektor manufaktur dan komoditas turut memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi serta pendapatan nasional yang lebih berkelanjutan. 

Lembaga pemeringkat global Moody’s Investor Service merilis peringkat kredit Indonesia atau sovereign credit rating (SCR) pada level Baa2 dengan outlook stabil. Hal itu berarti bahwa sektor manufaktur Indonesia kembali pulih dan siap untuk mendukung pertumbuhan ekonomi di masa depan.

Melihat prospek ekonomi yang cerah, di tengah situasi ekonomi global yang tidak pasti. Rasanya selebrasi Ole Romeny perlu kita tiru dan lakukan. Tetap optimis, dan selalu menegakkan kepala menghadapi tantangan yang ada di depan mata. 

Tidak perlu terjerumus dalam narasi negatif bahwa ekonomi Indonesia akan hancur. Tetap percaya pada langkah dan kebijakan kebijakan ekonomi yang telah diterapkan oleh pemerintah serta berusaha menciptakan kondisi keamanan yang kondusif.

Jadi..tegakkan kepalamu, hadapi saja!

(phw)

 

Disclaimer

Artikel ini merupakan opini pribadi penulis, bukan pandangan resmi Kementerian Keuangan RI. Informasi telah diverifikasi, namun platform tidak bertanggung jawab atas keakuratan atau kelengkapannya. Pembaca disarankan melakukan verifikasi mandiri.