Menjadi Aktif dan Produktif di Masa Pandemi

"Apa pun yang dilakukan seseorang itu, hendaknya dapat bermanfaat bagi bangsanya dan bagi manusia di dunia pada umumnya" - Ki Hadjar Dewantara


Pandemi COVID-19 telah melanda di berbagai negara di seluruh pelosok dunia. Berdasarkan data dari World Health Organization (WHO), jumlah negara yang terkena dampak virus COVID-19 sebanyak 228 negara, dengan kasus terkonfirmasi per tanggal 15 Februari 2022 sebanyak 412.351.279 kasus dan jumlah angka kematian sebanyak 5.821.004 jiwa. Sementara itu, secara nasional, berdasarkan data yang dihimpun oleh Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, per tanggal 15 Februari 2022, jumlah pasien positif mencapai 4.901.328 jiwa, pasien yang sembuh sebesar 4.349.848 jiwa, dan pasien yang meninggal sebesar 145.455 jiwa. Angka yang tidak sedikit dengan temuan kasus yang terus terjadi setiap harinya sampai dengan hari ini.

Persebaran virus COVID-19 terjadi hampir di seluruh wilayah di Indonesia dengan pusat persebaran terbesar di Pulau Jawa. Bukan lagi hal yang dapat diremehkan, pandemi ini semakin hari semakin dirasakan oleh masyarakat Indonesia terlebih dengan maraknya varian dari virus ini yang bermutasi dengan cepat. Secara langsung dan tidak langsung, pandemi COVID-19 telah memaksa berbagai sektor usaha dan perekonomian untuk memukul mundur kinerja, target, dan pencapaian yang telah sekian lama direncanakan. Seolah memakan buah simalakama, para usaha dan pegiat ekonomi di Indonesia dan dunia harus berhadapan dengan dua polemik sekaligus: ancaman terkena virus COVID-19 dan tantangan perekonomian yang anjlok. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2020 mengalami kontraksi seperti halnya dengan pertumbuhan ekonomi berbagai negara di dunia. Tercatat pada kuartal I/2020, persentase konsumsi tumbuh sebesar 2,83 persen dan persentase ekonomi tumbuh sebesar 2,97 persen (year on year/yoy). Sementara itu, pada kuartal II/2020, konsumsi mengalami kontraksi sebesar minus 5,51 persen dan pertumbuhan ekonomi sebesar minus 5,32 persen (yoy). Saat ini, Kementerian Keuangan RI dan Direktorat Jenderal Pajak telah memberikan berbagai stimulus fiskal yang menjadi salah satu bagian dari program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) di masa pandemi ini. Selain itu, Bank Indonesia juga memberikan stimulus moneter dengan menurunkan tingkat bunga acuan dan melonggarkan Giro Wajib Minimum (GWM). Stimulus-stimulus yang telah ditetapkan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pertumbuhan ekonomi sebesar 3,24 persen di tahun 2020 di tengah bayang-bayang resesi yang menghantui pada tahun 2021. 

Memantik Rasa, Asa, dan Suara

Tidak hanya ancaman virus dan perekonomian, rasa aman dan tenteram yang dirasakan masyarakat tidak ubahnya semakin mencekam. Keheningan dalam sektor usaha dan pariwisata, berkurangnya mobilitas antar kota, dan minimnya interaksi dengan sesama secara langsung dalam bersosial dan bermasyarakat, sangat dirasakan oleh semua orang di masa pandemi ini. Sehingga, rasa, asa, dan suara seakan terbungkam tanpa ada celah untuk berleluasa bebas seperti di tahun-tahun sebelumnya. Rasa berjarak jauh, asa tercuci bersih, dan suara terbungkam masker. Semua terasa tak asing saat ini, tangis pun mengiringi kepergian sanak saudara dan tenaga medis yang telah berpulang kepada Sang Khalik. Seperti inilah gambaran dunia saat ini yang harus dijalani, tetapi apakah makna dari semuanya itu? Apakah kepergian mereka menguap begitu saja tanpa arti?

Dalam sekian banyak carut-marut dunia saat ini, hanya diperlukan rasa optimis dan motivasi yang tinggi bagi rakyat Indonesia untuk menghadapi segala situasi yang terjadi. Bukan rakyat Indonesia apabila menyerah dengan keadaan karena ibarat air, semakin curam sungai semakin keras hentakannya pada bebatuan. Bukan rakyat Indonesia apabila tidak mau menerima keadaan dan memetik makna dari pandemi ini. Bukan saatnya rakyat Indonesia untuk menyerah di tengah bergugurannya para pahlawan masa lalu dan masa kini. Justru inilah saatnya itu tiba, ancaman pandemi COVID-19 sebagai sarana berperang dengan diri sendiri untuk menyelamatkan orang lain. Memendam rasa ego untuk lebih peduli dengan diri sendiri dan sesama untuk menyelamatkan negeri ini. Sehingga tak lagi padam, pandemi adalah waktu untuk memantik rasa, asa, dan suara menjadi lebih keras, lebih kuat, dan lebih tangguh dari yang telah berlalu. Sebaliknya, pandemi inilah yang memantik semangat masyarakat Indonesia.

Tetap Aktif dan Produktif

Lantas, bagaimana mewujudkan rasa, asa, dan suara di masa pandemi ini? Yaitu dengan tetap aktif dan terus produktif dari hari ke hari dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan dan kewaspadaan diri. Tak dapat dipungkiri, untuk menjadi aktif pada saat pandemi ini tentu tidaklah mudah. Yang terbiasa dengan berpergian jauh harus menahan diri, yang sering berpergian tanpa mengenakan masker harus memakainya saat ini, dan kebiasaan mencuci tangan harus dilakukan sepanjang waktu. Rasanya menjadi aktif seperti memiliki banyak syarat yang menunda kecepatan bergerak dan menghambat keleluasaan masyarakat. Namun, untuk menjadi aktif bukan seberapa cepat pergerakan atau seberapa luas wilayah yang dapat dijangkau, namun seberapa efektif dan efisien tujuan dapat tercapai. Menjadi aktif sekarang ini yaitu mampu bergerak dengan tepat sasaran dan benar tanpa membahayakan diri sendiri dan orang lain, yaitu berpergian dengan menggunakan masker, rajin mencuci tangan, dan menjaga jarak dengan orang sekitar. Aktivitas ini justru menjadi pola hidup yang baru yang menuntut masyarakat untuk lebih aktif dalam menjaga kesehatannya. Rutin berolah raga dan menjaga asupan makanan dan minuman yang bergizi menjadi kebiasaan yang baru. Berdagang di pasar atau toko dengan tetap memakai masker, menarik becak dan ojek dengan menjaga kebersihan, menghidangkan sajian kuliner dengan taat mencuci tangan dan menjalankan protokol kesehatan, mengadakan rapat dengan berjaga jarak, dan berbagai macam kegiatan lainnya. Rasanya menjadi aktif tak lagi ilusif, namun justru semakin nyata dengan memperketat diri mengikuti protokol kesehatan yang ada. 

Tak hanya itu, menjadi produktif sama halnya menjadi aktif di tengah pandemi COVID-19 ini. Kondisi yang memaksa usaha-usaha untuk bergulung tikar justru tak mematikan inovasi-inovasi yang terus bermunculan. Yang terbiasa produktif secara langsung, dituntut untuk mampu membiasakan diri dengan berbagai sarana dan ide-ide solutif yang harus dilakukan seperti memanfaatkan platform-platform digital untuk beraktivitas usaha dan kehidupan sehari-hari. Seperti halnya berjualan secara daring, memanfaatkan aplikasi siaran langsung (streaming) sebagai media seminar, telewicara, dan sebagainya, belajar dengan tekun dengan memanfaatkan informasi yang tersedia di internet, dan menghidupkan kembali jalinan silaturahmi yang terputus karena jarak. 

Langkah-Langkah Strategis yang Diperlukan

Akan tetapi, konsepsi dasar untuk tetap aktif dan produktif dalam menjalankan protokol kesehatan dan mendorong inovasi-inovasi yang ada ini tidak semudah membalikkan telapak tangan. Kondisi ini membutuhkan langkah-langkah yang strategis yang dapat dilakukan oleh pemerintah dan seluruh masyarakat di Indonesia. Dengan demikian, berikut ini lima langkah strategis yang dapat ditempuh untuk dapat tetap aktif dan produktif di masa pandemi COVID-19.

Pertama, menanamkan prinsip kesehatan dan keselamatan diri sendiri dan orang lain adalah prioritas utama. Baik dari segi pemangku kepentingan maupun masyarakat, pandemi ini mewajibkan untuk memprioritaskan kesehatan dan keselamatan diri sendiri dan orang lain. Dalam merumuskan kebijakan, berwirausaha, bersosial, dan beraktivitas sehari-hari, prinsip kesehatan dan keselamatan adalah yang utama. Apabila hal ini dapat dilakukan, untuk menjadi aktif dan produktif tidak lagi hal yang mustahil karena seluruh rancangan telah terprogram dengan lebih aman dari ancaman virus COVID-19. 

Kedua, mengedukasi diri dengan beragam ilmu pengetahuan dan informasi yang valid dan tepercaya. Menjalankan protokol kesehatan adalah bentuk perwujudan edukasi yang benar akan ilmu pengetahuan dan informasi yang valid dan tepercaya. Untuk menjadi aktif dan produktif, pemerintah dan masyarakat harus dibekali ilmu dan informasi yang terarah dan memiliki kesatuan suara. Dengan memanfaatkan sumber-sumber informasi dari pemerintah dan lembaga berwenang, hasil studi dan literatur yang tepercaya, dan data yang dihimpun dengan valid dan lengkap, mampu mencegah dan mengurangi konflik kesalahpahaman yang dapat mengganggu tingkat aktivitas dan produktivitas sesama. 

Ketiga, membuka diri dengan segala peluang dan kesempatan yang ada dengan tetap aman dan terkendali. Dengan berbagai peluang dan kesempatan yang ada, pemerintah dan masyarakat mampu bertindak secara matang dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Pengambilan kebijakan-kebijakan bagi masyarakat yang tepat sasaran dan taat kesehatan dan keselamatan, mampu mendorong iklim usaha dan perekonomian yang semakin baik. Kebijakan yang prudensial dan terorganisasi dengan baik akan mendorong semangat masyarakat untuk aktif dan produktif dengan aman dan selamat. Pilihan-pilihan peluang berbisnis secara daring, perubahan tugas karyawan, pemanfaatan sumber daya baru, inovasi produk baru, dan sebagainya menjadi salah satu jalan solutif dan alternatif yang dapat dilakukan oleh masyarakat. Dengan membuka diri terhadap berbagai perubahan ini, pemerintah dan masyarakat mampu bergotong royong bersama untuk menyembuhkan pandemi dan memulihkan ekonomi di Indonesia.

Keempat, menjalankan sembilan Arahan Bersatu Lawan COVID-19. Sembilan arahan tersebut yaitu memperhatikan data sebaran dalam membuat keputusan-keputusan dalam merespon penambahan kasus di provinsi, baik kabupaten maupun kota, dan menerapkan strategi intervensi berbasis lokal, baik tingkat rukun tetangga atau rukun warga (RT/RW), desa atau kampung; terus bekerja keras menurunkan angka kematian; dan terus bekerja keras meningkatkan angka kesembuhan. Selanjutnya, memastikan ketersediaan tempat tidur dan Intensive Care Unit (ICU) di rumah sakit rujukan untuk kasus-kasus yang berat; terus menambah tempat isolasi pasien COVID-19 tanpa gejala atau yang bergejala ringan oleh pemerintah; dan harus segera memperkecil ketimpangan kapasitas testing (pengujian) antardaerah, jangan sampai terdapat provinsi yang masih jauh di bawah. Kemudian, dengan segera mempercepat seluruh program insentif yang bersifat cash transfer (transfer tunai); meningkatkan penegakan disiplin dalam menjalankan protokol kesehatan, terutama mengenai masker dan physical distancing (berjaga jarak); dan meningkatkan pemahaman mengenai penyebaran COVID-19 yang sangat penting mengingat Indonesia adalah negara kepulauan yang tidak bisa dibandingkan dengan negara lain yang bukan kepulauan. Sembilan arahan oleh Presiden Joko Widodo dan Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) diharapkan dapat dijalankan dengan cepat, tepat, dan sigap dalam situasi pandemi saat ini. 

Kelima, tetap melakukan evaluasi, pengawasan, dan perbaikan terhadap segala aspek yang ada. Pemerintah dan masyarakat bersama-sama melakukan evaluasi, pengawasan, dan perbaikan terhadap segala macam akvititas yang ada, baik yang bersifat mikro terhadap diri sendiri maupun makro akan pelaksanaan kebijakan. Dalam skala kecil, seluruh masyarakat harus memperbaiki pola hidup yang lebih baik agar dapat tetap aktif dan produktif. Sementara itu, dalam skala besar, pemerintah harus mampu melakukan penyempurnaan terus menerus terhadap segala keputusan dan kebijakan serta pelaksanaannya dan masyarakat mampu mengawal pelaksaan program-program pemerintah yang ada dari waktu ke waktu. 

Hidup yang Baru

Kelima langkah strategis tersebut harus dijalankan dengan segera, tanpa kompromi. Komitmen bersama untuk mewujudkan iklim aktivitas dan produktivitas yang kondusif serta pertarungan dengan virus COVID-19 adalah kewajiban utama dan tugas bersama. Keterlibatan pemerintah, lembaga, komunitas, relawan, budayawan, aparat penegak hukum, dan seluruh lapisan masyarakat sangat dibutuhkan dalam mencegah dan mengatasi permasalahan-permasalahan yang terjadi. Sinergi berbagai pihak terkait sangat dibutuhkan untuk menyatukan suara agar dapat tetap aktif dan produktif sekaligus berupaya melawan pandemi COVID-19. 

Gambaran menjadi aktif dan produktif di masa pandemi COVID-19 ini tidak sama seperti kehidupan di tahun 2019 dan tahun-tahun sebelumnya. Kehidupan di masa pandemi ini adalah kehidupan yang lebih menantang dengan semangat yang tak akan padam. Dengan memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak, tersimpan percikan api rasa, asa, dan suara untuk tetap bertahan dan terus berjuang melawan virus COVID-19. Dengan mengerti dan memahami rasa yang sama, sinergi ini mampu mengobarkan percik api yang menjadi semangat juang setiap hari, jam, menit, dan detik sepanjang waktu. Tanpa kenal lelah, inilah saatnya untuk terus berjuang dan berkarya, tetap aktif dan produktif, dengan aman dan selamat, di masa pandemi COVID-19 demi diri sendiri,  Indonesia, dan masyarakat dunia. 
 

 

Sumber Referensi

Akbar Alifiani. 11 Juni 2020. Kondisi Perekonomian Indonesia di Tengah Pandemi COVID-19. Diunduh dari https://www.suara.com/yoursay/2020/06/11/122201/kondisi-perekonomian-indonesia-di-tengah-pandemi-covid-19?page=all pada tanggal 16 Februari 2022.

Badan Pusat Statistik. 5 Agustus 2020. Ekonomi Indonesia Triwulan II 2020 Turun 5,32 Persen. Diunduh dari laman https://www.bps.go.id/pressrelease/2020/08/05/1737/-ekonomi-indonesia-triwulan-ii-2020-turun-5-32-persen.html / pada tanggal 16 Februari 2022.

Correia S, Luck S, Verner E. 2020. Pandemics depress the economy, public health interventions do not: evidence from the 1918 Flu

Drajad H. Wibowo. 06 Agustus 2020. Pertumbuhan Ekonomi Minus 5,32 Persen: Sekali Lagi, Tolong Kendalikan Pandeminya. Diunduh dari laman https://money.kompas.com/read/2020/08/06/122846926/pertumbuhan-ekonomi-minus-532-persen-sekali-lagi-tolong-kendalikan-pandeminya?page=all pada tanggal 16 Februari 2022.

Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19. 2020. 9 Arahan Bersatu Lawan COVID-19. Diunduh dari laman https://covid19.go.id/edukasi/masyarakat-umum/9-arahan-bersatu-lawan-covid-19 pada tanggal 16 Februari 2022.

Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19. 2022. Data Sebaran Nasional dan Global. Diunduh dari laman https://covid19.go.id/ pada tanggal 16 Februari 2022

Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19. 2020. Laporan/Bahan Tayang Analisis Data. Diunduh dari laman https://covid19.go.id/ pada tanggal 16 Februari 2022.

Kementerian Keuangan RI. 13 Mei 2020. Menkeu: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tahun 2021 Diprediksi Tumbuh 4,5-5,5%. Diunduh dari laman https://www.kemenkeu.go.id/publikasi/berita/menkeu-pertumbuhan-ekonomi-indonesia-tahun-2021-diprediksi-tumbuh-4-5-5-5/ pada tanggal 16 Februari 2022.

Kementerian Keuangan RI. 6 Mei 2020. Hadapi Pandemi, Ekonomi Indonesia Triwulan I Tahun 2020 Tumbuh 2,97%. Diunduh dari laman https://www.kemenkeu.go.id/publikasi/berita/hadapi-pandemi-ekonomi-indonesia-triwulan-i-tahun-2020-tumbuh-2-97/ pada tanggal 16 Februari 2022.

World Health Organization. 17 September 2020. WHO Coronavirus Disease (COVID-19) Dashboard. Diunduh dari laman https://covid19.who.int/?gclid=EAIaIQobChMIna6vxoHw6wIVzn0rCh3ViQjqEAAYASABEgKLU_D_BwE pada tanggal 16 Februari 2022.

Disclaimer

Artikel ini merupakan opini pribadi penulis, bukan pandangan resmi Kementerian Keuangan RI. Informasi telah diverifikasi, namun platform tidak bertanggung jawab atas keakuratan atau kelengkapannya. Pembaca disarankan melakukan verifikasi mandiri.