“Money doesn’t change people, it unmasks them”
Pepatah unknown yang saya temukan saat berselancar di internet ini sangat menarik perhatian saya: "Uang tidak mengubah seseorang, uang hanya membuka topeng mereka." Ungkapan ini menegaskan bahwa uang hanyalah alat dan tidak dapat mengubah kepribadian seseorang, melainkan justru memperjelas karakter aslinya.
Berbicara tentang uang mungkin terdengar sederhana, tetapi ketika dipraktikkan, ternyata jauh lebih kompleks. Salah satu tantangan terbesar adalah mengelola keuangan. Sebagai pengelola keuangan negara, pegawai Kementerian Keuangan tentu sudah sangat ahli di bidangnya masing-masing. Namun, ketika berbicara tentang pengelolaan keuangan pribadi, muncul pertanyaan: Apakah kita sudah memahami dan menerapkan perencanaan keuangan dengan baik?
Mari kita telaah lebih dalam melalui Piramida Perencanaan Keuangan.
Keamanan Keuangan
Lapisan pertama dalam perencanaan keuangan adalah keamanan finansial. Pada tahap ini, hal utama yang perlu diwaspadai adalah pengeluaran yang lebih besar daripada pemasukan. Jika tidak dikelola dengan baik, kondisi ini dapat menjadi batu sandungan yang menghambat stabilitas keuangan kita. Bahkan, dalam jangka panjang, defisit keuangan semacam ini bisa menjadi bumerang yang menyulitkan pencapaian tujuan finansial.
Selain itu, memiliki dana darurat juga menjadi aspek penting dalam menjaga keamanan finansial. Meskipun jumlah ideal dana darurat dapat bervariasi tergantung pada patokan yang digunakan, fungsinya tetap sama, yaitu sebagai cadangan keuangan ketika menghadapi risiko kehidupan, seperti kecelakaan atau pemutusan hubungan kerja. Dengan adanya dana darurat, kita dapat lebih siap menghadapi situasi tak terduga tanpa harus mengorbankan kestabilan keuangan.
Dana darurat bisa dikumpulkan dengan menyisihkan 10-20 persen dari pendapatan bulanan hingga mencapai 3-6 kali pengeluaran bulanan. Misalnya, jika pendapatan bulanan 10 juta rupiah, sisihkan 1 juta rupiah setiap bulan. Jika pengeluaran bulanan 8 juta rupiah, dana darurat yang diperlukan adalah 24 juta rupiah (3 kali pengeluaran). Jadi, kumpulkan 1 juta rupiah setiap bulan selama 24 bulan untuk mencapai 24 juta rupiah.
Prioritaskan melunasi pinjaman konsumtif seperti kartu kredit, dan usahakan cicilannya seminimal mungkin. Total utang sebaiknya tidak melebihi 30% dari penghasilan, dengan kartu kredit idealnya hanya 10-15%. Jadi, jika penghasilan bulanan 10 juta rupiah, cicilan kartu kredit sebaiknya hanya sekitar 1,5 juta rupiah per bulan. Selalu bayar penuh tagihan setiap bulan untuk menghindari bunga tinggi. Manfaatkan juga fasilitas beberapa bank yang dapat menghapus iuran tahunan kartu kredit.
Salah satu bentuk proteksi diri yang sering diabaikan karena merasa belum membutuhkannya adalah asuransi. Asuransi berfungsi seperti sedia payung sebelum hujan, siap memberikan dana saat risiko kehidupan terjadi. Risiko ini adalah risiko yang sudah diperhitungkan, seperti sakit dan kematian.
Asuransi kesehatan sangat berguna saat kita sakit karena biaya pengobatan bisa sangat mahal, mulai dari puluhan juta hingga miliaran rupiah. Asuransi ini akan menanggung biaya pengobatan sesuai dengan perjanjian dalam polis, yang umumnya terbagi menjadi dua skema: inner limit atau sesuai tagihan. Jika asuransi menggunakan skema sesuai tagihan, maka biaya pengobatan akan ditanggung sesuai dengan bill rumah sakit.
Bila pembaca ingin membeli asuransi, maka perlu melihat jenis asuransi kesehatan yang akan dibeli. Ada dua jenis asuransi yang populer saat ini: asuransi tradisional dan asuransi Unit Link. Asuransi Unit Link adalah produk asuransi yang juga memiliki komponen investasi. Tujuan utama investasi dalam Unit Link bukan untuk mencari keuntungan, tetapi untuk membantu menekan biaya asuransi yang bisa naik setiap tahun karena inflasi medis.
Berapa porsi ideal untuk asuransi berdasarkan persentase penghasilan? Menurut pengalaman penulis, alokasi 10% dari penghasilan sudah cukup untuk mengatasi risiko hidup. Namun, jika memiliki anggaran lebih, porsi ini bisa ditingkatkan hingga 20% untuk perlindungan yang lebih optimal, seperti yang disarankan oleh para ahli keuangan. Jadi, jika penghasilan bulanan Rp10 juta, alokasikan Rp1 juta per bulan untuk asuransi.
Kenyamanan Keuangan
Setelah mencapai keamanan keuangan, langkah berikutnya adalah meningkatkan kenyamanan keuangan. Kita bisa mulai berinvestasi dalam instrumen yang relatif aman, seperti reksa dana pasar uang, reksa dana pendapatan tetap, emas, Obligasi Pemerintah, dan investasi berisiko rendah lainnya. Investasi ini membantu menjaga pertumbuhan aset dan mengurangi potensi kerugian, serta bertujuan untuk memenuhi rencana keuangan seperti menikah atau melanjutkan pendidikan.
Selain bisa memberikan keuntungan pribadi, kita juga bisa ikut berkontribusi dalam perekonomian nasional lewat investasi di Obligasi Negara Ritel (ORI) seri ORI027. ORI027 adalah pilihan investasi yang cukup aman dan stabil, dengan imbal hasil berupa kupon tetap sebesar 6,65% per tahun selama 3 tahun. Keuntungan ini akan dibayarkan setiap bulan, dan cara investasinya lebih mudah dipahami dibandingkan dengan saham. Perlu diketahui, kupon yang diterima akan dipotong pajak sebesar 10%.
Sebagai langkah awal membangun kondisi keuangan yang sehat, kita bisa mulai menyisihkan 10% dari penghasilan untuk investasi. Setelah punya portofolio investasi, langkah selanjutnya adalah merencanakan masa pensiun dan mulai mencari sumber penghasilan pasif. Tujuannya supaya di masa tua nanti, kita tetap punya pemasukan tanpa harus bekerja aktif. Maka dari itu, sebaiknya manfaatkan masa produktif dengan membangun usaha atau bisnis, agar saat pensiun nanti, kita sudah memiliki passive income yang cukup untuk menunjang kehidupan.
Bagi pegawai negeri sipil (PNS), salah satu sumber dana pensiun berasal dari pemotongan iuran yang telah ditetapkan. Perhitungan dana pensiun ini didasarkan pada rumus:
Dana Pensiun = 2,5% × Masa Kerja (dalam tahun) × Gaji Pokok Terakhir
Namun, selain mengandalkan dana pensiun dari iuran yang dipotong selama bekerja, kita juga perlu mempertimbangkan jumlah dana yang harus disiapkan untuk menghadapi masa pensiun dengan aman. Jika melihat angka harapan hidup rata-rata masyarakat Indonesia yang mencapai 75 tahun, sementara usia pensiun ditetapkan pada 50 tahun, maka kita perlu merencanakan kebutuhan finansial selama 25 tahun setelah pensiun.
Sebagai gambaran, jika biaya hidup bulanan seseorang mencapai Rp4 juta, maka total dana pensiun yang harus disiapkan adalah:
Rp4 juta × 12 bulan × (75 - 50) tahun = Rp1,2 miliar.
Dengan perencanaan keuangan yang matang sejak dini, kita dapat menikmati masa pensiun dengan lebih tenang dan sejahtera tanpa perlu khawatir terhadap kebutuhan finansial di masa tua.
Penutup
Penting untuk dipahami bahwa setiap tingkatan dalam piramida keuangan ini sebaiknya dicapai secara berurutan. Melewatkan satu tahapan terkadang bukanlah tindakan yang bijak, seperti pengalaman penulis sendiri yang dahulu, ketika baru memiliki penghasilan, langsung "melompat" ke fase investasi tanpa mempersiapkan dana darurat, serta menyalahgunakan kartu kredit, dan juga tidak menyiapkan perlindungan finansial.
Segitiga keuangan merupakan alat bantu dalam merencanakan keuangan selama kita menjalani kehidupan di dunia. Sebagai bagian dari perencanaan tersebut, kita perlu juga mengalokasikan sekitar 10 persen dari anggaran untuk donasi. Memberikan donasi bukan hanya bentuk kepedulian sosial, tetapi juga wujud rasa syukur kepada Tuhan atas rezeki yang telah kita terima.