Menembus Critical Eleven: Catatan dari Udara tentang Penugasan, Pengasuhan, dan Dedikasi

Tiga belas ribu kaki di atas daratan, di antara berkas konferensi dan pelukan anak, ada ruang di mana profesionalisme dan peran pengasuhan tidak harus saling meniadakan. Sebuah catatan perjalanan dinas empat hari tiga malam Halim–Malang.


Dalam dunia penerbangan, dikenal istilah Critical Eleven, tiga menit pertama setelah lepas landas (takeoff) dan delapan menit terakhir sebelum mendarat (landing). Tanda lampu sabuk pengaman menyala, lampu kabin diredupkan, dan seluruh awak pesawat berada dalam tingkat kewaspadaan tertinggi. Itu adalah sebelas menit paling krusial, di mana tidak boleh ada kesalahan kecil pun terjadi.

Bagi saya seorang ibu yang terbang melintasi ruang udara demi menjalankan penugasan dinas sambil membawa anak, critical eleven bukan sekadar istilah aviasi. Ini adalah metafora yang hidup di sepanjang penerbangan rute Bandara Halim Perdanakusuma (HLP) menuju Bandara Abdulrachman Saleh Malang (MLG), dan kembali dengan penerbangan rute kembali Bandar Undara Soekarno-Hatta.

Di atas kursi kabin yang sempit, dalam durasi empat hari tiga malam penugasan untuk menjadi Session Chair dan Moderator pada 5th Brawijaya International Economic and Finance Conference (BEFIC), saya menghayati kembali arti hadir seutuhnya, baik sebagai ASN yang mengemban amanah organisasi dan sebagai ibu bagi anak yang menggenggam jemari saya di sepanjang guncangan turbulensi. 

 

Di Antara Tiga Belas Ribu Kaki dan Lembar Moderasi

Menjadi Session Chair dalam sebuah konferensi internasional menuntut ketajaman berpikir dan fokus tanpa kompromi. Saya harus mencerna esensi makalah para peneliti, mengarahkan lalu lintas diskusi akademis, menjaga ketepatan waktu, dan memastikan ruang intelektual berlanjut secara produktif. 

Namun, beberapa jam sebelum berdiri di panggung mimbar di Malang, babak pertama perjuangan itu justru terjadi di udara. 

Dalam hitungan delapan menit pertama takeoff dari Halim, saat mesin pesawat meraung menanjak menuju ketinggian jelajah, tekanan udara merayap masuk ke telinga anak yang sedang di pangkuan saya. Di tangan kiri, saya memegang lembar panduan sesi konferensi dan di tangan kanan saya mendekap anak agar ia merasa aman di tengah deru angin luar kabin. Lalu, pada tiga menit terakhir menuju pendaratan di Malang, di antara bukit-bukit yang membayang di bawah, fokus saya harus terbagi antara memastikan posisi anak tetap aman dan memastikan mental saya siap menjalankan tugas profesional keesokan harinya.

Dua dunia yang dulu sering dianggap harus dipisahkan dengan garis tegas, hari itu berimpit rapat dalam satu baris kursi penerbangan. 

 

Empat Hari Tiga Malam: Ketika Penugasan Tak Lagi Berarti 'Meninggalkan'

Selama bertahun-tahun, ada narasi implisit dalam dunia kerja bahwa perjalanan dinas adalah wujud pengorbanan dimana keluarga harus "ditinggalkan di balik pintu rumah". Seorang pegawai yang berangkat dinas dianggap hanya bisa berkinerja optimal jika ia melepaskan sementara atribut domestiknya.

Perjalanan empat hari tiga malam ke Malang ini membuktikan sudut pandang yang berbeda. 

Membawa anak dalam penugasan luar kota tentu membutuhkan perencanaan logistik yang rumit, energi ganda, dan ritme istirahat yang terpotong. Namun, ada hal mendasar yang bergeser yaitu pikiran yang utuh. Ketika seorang ibu mengetahui anaknya berada dalam jangkauan yang aman dan terawat, kecemasan jarak jauh (distance anxiety) terangkat dari kepalanya.

Hasilnya? Saat saya berdiri memimpin panggung sesi di BEFIC ke-5 Universitas Brawijaya, kepatuhan akademis dan ketenangan berpikir tidak berkurang sedikit pun. Dedikasi tidak lahir dari keterpisahan yang dipaksakan, melainkan dari rasa tenang bahwa fungsi pengasuhan dan fungsi profesional dapat berjalan beriringan tanpa saling mengorbankan.

 

Fasilitas, Sistem, dan Emosi Kolektif Organisasi

Keberhasilan menuntaskan penugasan luar kota bersama anak bukan semata-mata cerita tentang ketangguhan individu. Seperti halnya keberadaan ruang laktasi atau Balai Kesehatan di kantor pusat, perjalanan dinas ramah keluarga sangat bergantung pada desain ekosistem pendukung. 

Ada tiga aspek penting yang membuat ruang penerbangan dan penugasan ini menjadi mungkin. Pertama, dukungan institusional dan regulasi yang sensitif gender. Kbijakan yang memberi ruang toleransi wajar bagi pegawai berkebutuhan khusus (seperti ibu menyusui atau membawa balita dalam perjalanan dinas mandiri/terakomodasi) adalah bentuk investasi SDM yang nyata. Ini memastikan talenta perempuan tidak perlu menolak penugasan strategis hanya karena hambatan pengasuhan.

Kedua, kultur empati rekan kerja dan penyelenggara; Di lokasi acara, keramahan panitia dan pemahaman dari sesama akademisi saat melihat seorang moderator mengapit berkas bersama anaknya di luar jam sesi adalah bahan bakar emosional yang tak ternilai. Tidak ada tatapan meragukan, yang ada adalah penerimaan yang wajar. 

Ketiga, infrastruktur publik yang ramah anak. Pengalaman di bandara, ketersediaan ruang menyusui yang layak di titik transit, hingga fleksibilitas akomodasi sangat menentukan apakah penerbangan dinas akan menjadi pengalaman yang memberdayakan atau malah menguras sumber daya fisik pegawai.

Penerbangan penerjun kembali menembus awan saat pesawat bergerak mendekati Bandara Soekarno Hatta dalam perjalanan pulang ke Jakarta. Tiga menit terakhir pendaratan berlalu dengan mulus. Roda pesawat menyentuh landasan, penanda berakhirnya critical eleven penerbangan, sekaligus tuntasnya penugasan 4 hari 3 malam di Malang.

Bekerja menerjang udara sambil membawa anak mengajari saya satu hal bahwa kita tidak perlu membelah diri untuk menjadi profesional yang kompeten sekaligus orang tua yang hadir. Ketika institusi dan sistem memberi ruang, masa-masa kritis itu bukanlah ancaman, melainkan bukti bahwa dedikasi terbaik justru lahir saat seorang pegawai diterima secara utuh sebagai manusia.

Disclaimer

Artikel ini merupakan opini pribadi penulis, bukan pandangan resmi Kementerian Keuangan RI. Informasi telah diverifikasi, namun platform tidak bertanggung jawab atas keakuratan atau kelengkapannya. Pembaca disarankan melakukan verifikasi mandiri.