Lima Pilar Pertumbuhan Baru Indonesia

Hilirisasi sumber daya alam, penggunaan produk dalam negeri, pengembangan UMKM, ekonomi digital, dan ekonomi hijau adalah lima sumber pertumbuhan ekonomi baru yang harus dioptimalkan oleh Indonesia.


Dalam beberapa tahun terakhir, perekonomian global menghadapi tantangan besar, mulai dari dampak pandemi, ketidakpastian geopolitik, hingga ancaman perubahan iklim. Indonesia, sebagai negara dengan potensi ekonomi besar, perlu beradaptasi dengan berbagai transformasi untuk menjaga pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Salah satu caranya adalah dengan mengeksplorasi dan mengoptimalkan sumber-sumber pertumbuhan ekonomi baru. Hilirisasi industri sumber daya alam, penggunaan produk dalam negeri, pengembangan UMKM, ekonomi digital, dan ekonomi hijau adalah lima pilar yang berpotensi mendorong perekonomian Indonesia ke tingkat yang lebih tinggi.  

 

Hilirisasi SDA: Strategi Tingkatkan Nilai Tambah Ekonomi

Indonesia adalah negara dengan sumber daya alam yang kaya dan berlimpah sehingga menjadi salah satu negara eksportir. Pemikiran agar Indonesia tidak hanya menjadi eksportir bahan mentah dan bisa mengekspor komoditas yang bernilai tambah yang memunculkan gagasan untuk hilirisasi. Selama beberapa dekade, ketergantungan pada ekspor bahan mentah telah membuat nilai tambah ekonomi dari sektor ini sangat terbatas. Hilirisasi menjadi jawaban atas tantangan tersebut. Ini adalah langkah strategis yang memungkinkan Indonesia mengolah bahan mentah menjadi komoditas bernilai tambah tinggi.

Sebagai contoh, pengolahan nikel menjadi bahan baku baterai kendaraan listrik mampu meningkatkan nilai ekonomis hingga beberapa kali lipat dibandingkan ekspor bijih nikel mentah. Ini tidak hanya meningkatkan devisa negara, tetapi juga menciptakan lapangan kerja baru di sektor manufaktur. Tidak hanya itu, hilirisasi juga memberikan efek domino bagi sektor lain, seperti transportasi, logistik, dan teknologi. Dengan berkembangnya industri hilir, kebutuhan akan infrastruktur pendukung meningkat, yang mendorong pembangunan di wilayah-wilayah strategis.  

Kebijakan yang konsisten merupakan salah satu kunci dalam keberhasilan hilirisasi. Integrasi kebijakan fiskal, investasi, dan pendidikan diperlukan agar ekosistem industri hilir dapat berkembang baik. Selain itu, menarik investasi luar negeri dan transfer teknologi kepada sumber daya manusia lokal juga menjadi tantangan yang perlu menjadi perhatian.

Saat ini, Indonesia masih berfokus pada hilirisasi di sektor pertambangan. Namun, kedepannya hilirisasi bisa juga dilakukan di sektor lainnya seperti sektor perkebunan dan perikanan. Sebagai contoh, kelapa sawit yang dapat diolah lebih lanjut menjadi biodiesel atau hasil laut Indonesia yang bisa diolah menjadi produk pangan olahan premium.

Jika nantinya Indonesia dapat berhasil menjalankan hilirisasi dengan baik maka ini akan membantu memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global. Komoditas-komoditas hasil olahan sumber daya alam Indonesia akan bersaing di kancah global. Indonesia tidak hanya menjadi eksportir bahan mentah, tetapi juga pemain utama dalam pasar global. Pada akhirnya, ini akan meningkatkan daya saing ekonomi nasional dan menjadi landasan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. 

 

Bangkitkan Ekonomi Melalui Konsumsi Domestik

Indonesia memiliki populasi lebih dari 270 juta jiwa. Ini artinya bahwa Indonesia memiliki pangsa pasar domestik yang luar biasa besar. Tentu, aspek populasi ini sangat penting bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia jika bisa dimanfaatkan secara optimal. Bahkan, jika bisa dikelola dengan baik potensi populasi yang besar ini dapat menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi.

Konsumsi rumah tangga adalah salah satu penopang pertumbuhan ekonomi Indonesia. Untuk itu, konsumsi ini perlu diarahkan kepada komoditas atau produk yang dapat memperkuat ketahanan ekonomi nasional. Salah satu caranya adalah dengan mengampanyekan penggunaan produk dalam negeri kepada masyarakat.

β€œBangga Buatan Indonesia”

Kita mungkin familier dengan slogan tersebut. Kampanye pemerintah yang bertujuan untuk mendorong konsumsi produk-produk lokal. Ini adalah gerakan di mana masyarakat diajak untuk dapat lebih memilih produk lokal dibandingkan produk impor atau luar negeri. Selain meningkatkan pendapatan pelaku usaha dalam negeri, langkah ini juga dipercaya dapat mengurangi defisit neraca perdagangan.

Selain kampanye mendukung produk lokal agar konsumsi masyarakat terhadap produk dalam negeri meningkat, pemerintah juga turut mendorong penggunaan produk dalam negeri. Salah satunya melalui implementasi kebijakan belanja pemerintah yang mengutamakan produk lokal atau memiliki unsur tingkat komponen dalam negeri (TKDN) yang tinggi. Kebijakan ini diharapkan dapat memberikan dampak langsung terhadap peningkatan kapasitas produksi dalam negeri.  

Penggunaan produk dalam negeri juga memiliki dampak positif dalam menciptakan lapangan kerja baru. Ketika permintaan meningkat, produsen akan memperluas kapasitas produksinya, yang secara otomatis membutuhkan lebih banyak tenaga kerja. Dengan sinergi yang baik antara masyarakat, produsen, dan pemerintah, penggunaan produk dalam negeri dapat menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.  

 

UMKM Sebagai Penggerak Ekonomi  

Tulang punggung ekonomi Indonesia.

Begitulah peran usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di Indonesia. Di tahun 2023, kontribusi UMKM terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia mencapai 61 persen atau setara dengan Rp9.580 triliun. Dengan skala usaha yang mencakup berbagai sektor maka tidak heran jika UMKM disebut sebagai tulang punggung ekonomi, terutama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Tidak hanya itu, sektor UMKM juga menjadi penggerak utama dalam mengurangi angka pengangguran dan meningkatkan kesejahteraan karena menyerap lebih dari 97% tenaga kerja di Indonesia.

Dalam memberikan dukungan kepada UMKM, salah satu kuncinya adalah melalui digitalisasi. Platform digital dapat dimanfaatkan oleh UMKM untuk memperluas jangkauan pasar baik di level nasional bahkan global. Ini akan meningkatkan daya saing UMKM. Selain itu, pengembangan UMKM juga harus diiringi dengan peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Pelatihan dalam bidang manajemen keuangan, pemasaran, dan penggunaan teknologi. Dengan memberdayakan UMKM, kita memberikan kesempatan kepada lebih banyak orang untuk berkontribusi dalam pembangunan ekonomi. 

 

Transformasi Digital Sebagai Motor Pertumbuhan

Perkembangan teknologi telah membuka peluang baru bagi perekonomian Indonesia. Laporan dari We Are Social, pada Januari 2024 hampir separuh penduduk dunia yakni 5,35 miliar orang terkoneksi di dunia maya. Dalam era revolusi industri 4.0, digitalisasi tidak hanya menciptakan efisiensi, tetapi juga membuka peluang besar untuk menciptakan ekosistem ekonomi baru. Ekonomi digital telah menjadi lokomotif baru bagi pertumbuhan ekonomi di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Di Indonesia, potensi ekonomi digital sangat menjanjikan. Dengan jumlah penduduk lebih dari 270 juta jiwa dan penetrasi internet yang terus meningkat, Indonesia diproyeksikan menjadi kekuatan ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara. Laporan Google, Temasek, dan Bain menyebutkan bahwa nilai ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan mencapai USD 150 miliar pada 2025, didukung oleh sektor e-commerce, layanan keuangan digital, dan transportasi online.

E-commerce, fintech, dan startup teknologi adalah tiga pilar utama yang mendukung ekonomi digital. Ekspansi e-commerce telah mengubah cara masyarakat berbelanja, sementara fintech memperluas akses ke layanan keuangan, terutama bagi mereka yang sebelumnya tidak terjangkau oleh bank.  Namun, potensi ekonomi digital tidak hanya terbatas pada sektor-sektor tersebut. Teknologi digital juga dapat diadopsi oleh sektor tradisional, seperti pertanian, manufaktur, dan transportasi, untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas. 

Salah satu tantangan utama dalam pengembangan ekonomi digital adalah kesenjangan akses teknologi antara daerah perkotaan dan pedesaan. Oleh karena itu, perlu ada investasi besar dalam infrastruktur digital, seperti jaringan internet dan pusat data. Selain itu, perlindungan data dan keamanan siber menjadi isu yang semakin penting seiring dengan meningkatnya aktivitas digital. Regulasi yang kuat dan kesadaran masyarakat terhadap risiko siber harus ditingkatkan. 

Ekonomi digital juga memberikan peluang besar bagi generasi muda. Dengan keterampilan yang tepat, mereka dapat menjadi inovator dan pencipta lapangan kerja baru di sektor teknologi. Jika dikelola dengan baik, ekonomi digital tidak hanya menjadi sumber pertumbuhan baru, tetapi juga alat untuk menciptakan inklusi ekonomi yang lebih luas.  

 

Bergerak Menuju Ekonomi Hijau Berkelanjutan

Perubahan iklim telah menjadi tantangan global yang membuat banyak negara memikirkan dampaknya terhadap ekonomi. Ekonomi hijau menjadi salah satu jawabannya. Ini bukan hanya sekadar tren global, tapi ekonomi hijau menjadi pendekatan ekonomi yang mengedepankan keberlanjutan lingkungan. Indonesia, dengan kekayaan alam yang melimpah dan posisi strategis di kawasan tropis, memiliki peluang besar untuk menjadikan ekonomi hijau sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru.

Dalam konteks Indonesia, transformasi ke arah ekonomi hijau dapat memberikan banyak manfaat, mulai dari peningkatan daya saing global hingga perlindungan terhadap sumber daya alam yang menjadi fondasi perekonomian kita. Indonesia memiliki potensi besar dalam mengembangkan energi terbarukan, seperti tenaga surya, angin, dan panas bumi. Dengan memanfaatkan potensi ini, Indonesia dapat mengurangi ketergantungan pada energi fosil sekaligus menciptakan industri baru yang ramah lingkungan.  

Ekonomi hijau adalah jawaban atas tantangan lingkungan sekaligus peluang baru bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dengan memanfaatkan potensi alam yang melimpah dan mengadopsi kebijakan yang mendukung keberlanjutan, Indonesia dapat menjadi pemimpin dalam ekonomi hijau di kawasan Asia Tenggara. Langkah ini bukan hanya soal menjaga bumi, tetapi juga menciptakan fondasi ekonomi yang lebih kokoh, inklusif, dan berkelanjutan untuk generasi mendatang

 

Hilirisasi sumber daya alam, penggunaan produk dalam negeri, pengembangan UMKM, ekonomi digital, dan ekonomi hijau adalah lima sumber pertumbuhan ekonomi baru yang harus dioptimalkan oleh Indonesia. Melalui sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta, setiap pilar ini dapat menjadi fondasi yang kokoh untuk mewujudkan visi Indonesia sebagai negara maju pada tahun 2045. Dengan memanfaatkan potensi yang dimiliki dan mengatasi tantangan yang ada, Indonesia dapat mencapai pertumbuhan ekonomi yang inklusif, berkelanjutan, dan berdaya saing global. Saatnya kita bergerak bersama untuk masa depan yang lebih baik.   

Disclaimer

Artikel ini merupakan opini pribadi penulis, bukan pandangan resmi Kementerian Keuangan RI. Informasi telah diverifikasi, namun platform tidak bertanggung jawab atas keakuratan atau kelengkapannya. Pembaca disarankan melakukan verifikasi mandiri.