Desain, Arsip, dan Daya Ingat Institusi

Beberapa bentuk desain tidak diciptakan untuk abadi.


Desain hidup sebentar, di kalender, di laporan tahunan, di poster sosialisasi, lalu hilang tanpa jejak. Namun dari sisa-sisanya, kita bisa membaca banyak hal: cara sebuah bangsa menampilkan diri, cara lembaga berbicara kepada publik, cara keseharian disusun lewat visual. Dalam konteks ini, muncul berbagai inisiatif yang mencoba merekam dan merawat warisan visual kita: People’s Graphic Design Archive (PGDA), Archives.Design, hingga grafisnusantara.com dan www.tndon.id/report-inspo. Masing-masing memiliki caranya sendiri dalam mengingat, mengajar, dan menegaskan kembali mengapa desain layak diarsipkan.

Grafis Nusantara, misalnya, tidak lahir dari ruang galeri, melainkan dari tumpukan label sabun, bungkus rokok, hingga stiker-stiker masjid yang dulu menempel di kaca angkot. Arsip ini mengangkat apa yang disebut “grafik vernakular”—bahasa visual rakyat yang lahir dari keseharian, dari kreativitas spontan yang sering dianggap murahan atau ketinggalan zaman. Dengan mendigitalkan dan mengkategorikan koleksi tersebut, Grafis Nusantara melakukan sesuatu yang lebih besar dari sekadar nostalgia: ia memulihkan martabat bentuk-bentuk visual lokal yang pernah dianggap remeh. Di sini, desain tidak lagi monopoli studio besar atau lembaga resmi, tapi juga milik tukang sablon, pedagang kelontong, dan anak muda yang menempelkan stiker di jalanan.

Di belahan lain dunia, People’s Graphic Design Archive menawarkan semangat yang serupa namun dengan cakupan global. Didirikan oleh sejarawan desain Louise Sandhaus, platform ini bersifat terbuka dan partisipatif—siapa pun bisa mengunggah materi desain, dari poster lama hingga catatan proses, dari brosur kampus hingga logo toko kecil. Tujuannya sederhana tapi radikal: mendemokratisasi sejarah desain. Tidak lagi hanya tentang nama-nama besar di buku teks, tapi tentang seluruh ekosistem—para pembuat tanda, operator percetakan, hingga desainer komunitas yang selama ini luput dari catatan resmi. Dengan begitu, arsip ini menjadi ruang belajar yang egaliter, tempat siapa pun bisa menelusuri sejarah visual tanpa batasan institusi atau hierarki.

Sementara itu, Archives.Design berperan sebagai perpustakaan tenang bagi estetika global. Platform ini mengumpulkan berbagai proyek desain—dari identitas korporat hingga eksperimen layout—tanpa banyak kurasi rasa. Justru di situlah kekuatannya: dengan bersikap netral, arsip ini memberi jarak bagi kita untuk menilai kembali tren yang pernah dianggap mutakhir. Dalam era ketika setiap rebranding berumur tak lebih dari satu unggahan di Behance, kehadiran arsip seperti ini mengembalikan perspektif: desain memiliki sejarah, dan setiap pilihan tipografi atau palet warna hari ini akan menjadi arsip esok hari.

Di Indonesia sendiri, T&Don Report Inspo menempuh jalur berbeda. Ia tidak mengarsipkan masa lalu, melainkan mendokumentasikan masa kini—laporan tahunan, infografik, hingga tata letak laporan publik yang dikurasi sebagai contoh komunikasi visual yang efektif. Meskipun tidak menyebut dirinya “arsip”, situs ini berfungsi seperti itu: sebagai catatan hidup tentang bagaimana lembaga-lembaga Indonesia—baik pemerintah maupun swasta—menyampaikan informasi melalui desain. Pendekatan ini penting, karena sering kali dokumen publik dibuat sekadar formalitas, tanpa mempertimbangkan cara visual bisa membangun kejelasan dan empati. T&Don membuktikan bahwa laporan keuangan atau kebijakan publik pun bisa menjadi karya desain yang komunikatif dan manusiawi.

Dari keempat contoh tersebut, terlihat pola yang sama: arsip desain bukan sekadar tumpukan gambar lama, melainkan cara berpikir. Ia berfungsi untuk menyimpan memori, memperluas pendidikan, dan memantik inspirasi. Pertama, arsip melestarikan apa yang nyaris hilang—label dari merek yang punah, layout dari era mesin ketik, atau estetika dari zaman yang belum tersentuh digitalisasi. Benda-benda itu menjadi jejak sosial tentang bagaimana sebuah masyarakat memandang dirinya sendiri. Kedua, arsip membuka ruang belajar di luar buku teks. Ia mengajarkan bahwa literasi desain tidak hanya tentang perangkat lunak atau gaya, tapi juga tentang konteks—bagaimana politik, agama, dan ekonomi membentuk keputusan visual. Ketiga, arsip memberi sumber inspirasi baru. Dengan menengok ke masa lalu, desainer bisa menemukan bahasa visual yang lebih jujur, berakar, dan bebas dari repetisi tren global.

Namun di luar dunia desain profesional, muncul pertanyaan penting: bagaimana dengan institusi publik yang juga memproduksi visual? 

Bayangkan Kementerian Keuangan, misalnya, yang selama puluhan tahun telah mencetak ribuan materi komunikasi: laporan keuangan negara, buletin kebijakan, poster sosialisasi pajak, hingga majalah internal yang kini hanya tersisa di rak-rak arsip lama. Semua ini sebenarnya adalah potret bagaimana negara berbicara kepada warganya—bukan melalui pidato, melainkan melalui kertas, tinta, dan tata letak. Sayangnya, belum ada sistem yang menyimpannya secara sistematis sebagai arsip desain publik. Padahal, jika Kemenkeu memiliki arsip desain grafis institusional, kita bisa menelusuri bagaimana wajah visual fiskal berevolusi: dari laporan yang disusun dengan mesin ketik dan cetak offset di era 1980-an hingga publikasi berwarna penuh yang kini diatur presisi di layar komputer. Arsip semacam itu tidak hanya akan menyimpan desain, tetapi juga merekam bahasa visual negara—bagaimana transparansi dan profesionalisme diwujudkan melalui kerapian grid, pilihan tipografi, dan keseimbangan antara teks dan ruang putih.

Lebih dari sekadar dokumentasi, arsip semacam itu akan memperkuat kepercayaan publik. Ia menegaskan bahwa komunikasi pemerintah bukan sekadar teknis, tapi juga bagian dari kebudayaan. Seperti halnya Grafis Nusantara mengangkat desain rakyat, arsip desain Kemenkeu bisa mengangkat nilai komunikasi publik sebagai bagian dari identitas bangsa. Dengan begitu, estetika dan akuntabilitas berjalan beriringan—desain bukan hanya cara menyampaikan data, tapi cara membangun makna bersama.

Pada akhirnya, mengarsipkan desain adalah tindakan merawat ingatan. Ia adalah bentuk kepedulian terhadap cara kita berkomunikasi, mencatat, dan memahami diri. Dari stiker sederhana di era 1980-an hingga layout laporan digital hari ini, setiap desain menyimpan cerita tentang zamannya. Dan seperti yang ditunjukkan oleh Grafis Nusantara, People’s Graphic Design Archive, Archives.Design, serta T&Don Report Inspo—arsip bukan hanya tempat menyimpan karya, tapi ruang refleksi atas siapa kita dan bagaimana kita ingin diingat.

Bagi lembaga publik seperti Kementerian Keuangan, membangun arsip desain bukanlah kemewahan—melainkan tanggung jawab budaya. Karena dengan mengarsipkan, kita tidak hanya menyimpan masa lalu; kita sedang mendesain masa depan.

Disclaimer

Artikel ini merupakan opini pribadi penulis, bukan pandangan resmi Kementerian Keuangan RI. Informasi telah diverifikasi, namun platform tidak bertanggung jawab atas keakuratan atau kelengkapannya. Pembaca disarankan melakukan verifikasi mandiri.