Bayangkan kita sedang menyiapkan segelas air untuk minum. Kalau isinya hanya air panas, terlalu menyengat dan sulit ditelan. Namun jika isinya hanya air dingin, terlalu menusuk dan tidak nyaman di perut. Akan tetapi, apabila keduanya dicampur, jadilah air hangat yang menyehatkan dan menyegarkan. Begitupun dengan B40. Pemerintah sedang meracik energi dengan cara mencampur 40% biodiesel dari kelapa sawit dengan 60% solar fosil. Hasilnya bukan sekadar bahan bakar baru, melainkan sebagai βair hangat energiβ yang lebih nyaman bagi negeri dengan banyak manfaat seperti mengurangi impor BBM, menambah nilai sawit, menekan polusi, dan sekaligus menjaga roda perekonomian tetap berputar.
Sejarah Biodiesel
Biodiesel adalah bahan bakar alternatif yang dibuat dari minyak nabati atau lemak hewani, yang diproses secara kimia menjadi metil ester (FAME/Fatty Acid Methyl Ester). Di Indonesia, bahan baku utama biodiesel adalah minyak sawit (CPO/Crude Palm Oil). Biodiesel kemudian dicampurkan dengan solar fosil dalam berbagai kadar, misalnya B20 berarti 20% biodiesel + 80% solar, B40 berarti 40% biodiesel + 60% solar.
Awal mula perjalanan biodiesel Indonesia bisa ditarik dari tahun 2005β2006, ketika harga minyak dunia melambung tinggi hingga menembus 60 dolar per barel. Saat itu, subsidi BBM dalam anggaran negara jebol, bahkan memaksa pemerintah menaikkan harga bensin dan solar dalam negeri lebih dari dua kali lipat. Situasi ini membuka mata, bahwa Indonesia tak lagi bisa bergantung penuh pada minyak bumi, apalagi sejak 2004 status kita berubah dari eksportir menjadi pengimpor minyak. Sebagai jawaban, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional. Inilah yang menjadi titik balik, saat pemerintah resmi mendorong diversifikasi energi dan memperkenalkan bahan bakar nabati sebagai jalan keluar. Dari sinilah program B5 lahir yaitu campuran dari 5% biodiesel dengan 95% solar fosil. Meski awalnya masih sebatas uji coba dan program percontohan, B5 menjadi simbol langkah pertama Indonesia mengurangi ketergantungan pada energi impor dan mulai melirik potensi besar dari sawit.
Seiring dengan berjalannya waktu dan berbagai macam uji coba, penggunaan biodiesel perlahan naik menjadi B10 pada 2013, B20 di 2016, B30 di 2020, hingga B35 di 2023. Kini, 2025 menandai era baru yaitu B40. Alasannya sederhana namun strategis. Indonesia memiliki produksi minyak sawit yang melimpah, sementara kebutuhan solar sebagian besar masih impor. Dengan mencampurkan keduanya, kita tidak hanya mengurangi ketergantungan luar negeri, tapi juga menciptakan pasar domestik raksasa bagi sawit.
Dampak Biodiesel
Jika dilihat dari sisi performa pada saat digunakan, biodiesel bekerja hampir sama seperti solar biasa. Biodiesel bisa digunakan di mesin diesel tanpa perlu banyak modifikasi. Hasil uji coba menunjukkan bahwa performanya hampir sama dengan solar murni. Mesin truk, bus, bahkan kereta api tetap berjalan normal dengan B40. Penurunan tenaga memang ada, akan tetapi sangat tipis hanya sekitar satu hingga dua persen, nyaris tak terasa di pemakaian harian. Dari sisi konsumsi, B40 sedikit lebih boros, hanya selisih dua sampai tiga persen. Artinya, kalau biasanya satu liter solar bisa menempuh sepuluh kilometer, dengan B40 jaraknya turun jadi 9,7 kilometer. Tidak terlalu signifikan dibandingkan dengan manfaat besar yang diberikan.
Dan menariknya, biodiesel justru membersihkan mesin. Karena sifatnya yang seperti βsabun alamiβ, B40 mengikis karbon yang menempel di ruang bakar. Emisi asap hitam berkurang, mesin lebih bersih, dan pembakaran lebih sempurna. Hanya saja, karena biodiesel mudah menyerap air, tangki bahan bakar harus lebih diperhatikan. Filter solar juga bisa lebih cepat kotor, sehingga kendaraan perlu perawatan ekstra, tapi efek positifnya mesin jadi lebih sehat dalam jangka panjang. Dari sisi lingkungan, keuntungan B40 sangat besar. Emisi karbon jauh lebih rendah, meskipun ada catatan kecil berupa peningkatan nitrogen oksida (NOx). Namun, teknologi mesin modern sudah mampu mengantisipasi masalah ini.
Beranjak ke sisi angka. Dari tahun ke tahun, penghematan devisa karena program biodiesel makin terasa nyata. Pada awal implementasi B10 di 2015, penghematan hanya sekitar 290 juta dolar AS. Angka itu naik menjadi lebih dari 3 miliar dolar di 2019, naik lagi ke 4,6 miliar di 2021, dan naik lagi ke 8,3 miliar dolar di 2022. Dengan B35 di 2024, devisa yang berhasil dihemat mencapai 8,06 miliar dolar atau setara Rp132 triliun. Dan kini, di era B40 tahun 2025, potensi penghematan semakin besar. Selain uang negara yang selamat dari kebocoran impor, ada pula manfaat lingkungan. Dengan B40, potensi penurunan emisi karbon dioksida bisa mencapai 41 juta ton per tahun. Angka ini setara dengan emisi dari puluhan juta kendaraan roda dua yang hilang dari jalan.
Meski manfaat biodiesel begitu menjanjikan, jalannya tidak mulus tanpa kendala. Selama ini, Indonesia masih bergantung pada bahan bakar fosil karena mesin dan rantai distribusi sudah puluhan tahun dibangun untuk solar murni. Apabila diganti langsung ke B80 atau B100 bukan perkara mudah. Beberapa hal teknis menjadi hambatan seperti kadar biodiesel yang terlalu tinggi bisa menimbulkan penyumbatan filter, penumpukan endapan karena sifat biodiesel yang higroskopis, hingga berkurangnya daya tahan mesin tertentu. Dari sisi pasokan, produksi minyak sawit juga harus dibagi antara kebutuhan pangan, ekspor, dan energi, sehingga pemerintah memilih bertahap agar tidak mengganggu stabilitas harga maupun pasokan. Kendala lain datang dari biaya produksi biodiesel yang relatif lebih tinggi dibanding solar impor, serta tantangan regulasi global yang masih memperdebatkan dampak lingkungan dari ekspansi sawit. Karena itulah, transisi ini dilakukan secara perlahan dari B5, B10, hingga kini B40 agar masyarakat, industri, dan negara bisa beradaptasi tanpa guncangan besar.
Transisi Energi
Biodiesel hanyalah satu bagian dari transisi energi Indonesia. Di satu sisi, pemerintah mendorong pembangunan PLTS, panas bumi, dan kendaraan listrik. Di sisi lain, biodiesel menjadi jembatan praktis yang bisa langsung diterapkan tanpa harus menunggu infrastruktur baru. Dengan kata lain, B40 adalah solusi transisi. Kita belum bisa sepenuhnya lepas dari energi fosil, tapi kita juga tidak ingin bergantung sepenuhnya pada impor. Maka campuran inilah yang menjaga mesin ekonomi tetap berjalan, sambil memberi waktu untuk membangun sumber energi yang benar-benar bersih.
Indonesia bukan satu-satunya negara yang memanfaatkan biodiesel. Brasil sudah lama memakai biodiesel dari kedelai, namun baru menuju B15 pada 2026. Uni Eropa ketat mengatur bahan baku, bahkan membatasi sawit karena isu deforestasi. Amerika Serikat memakai kedelai dan limbah lemak hewan. Malaysia, tetangga kita, baru sampai pada B20 dan B30. Dari sini jelas, Indonesia adalah pionir dengan campuran setinggi B40. Kita bisa jadi contoh bahwa negara berkembang pun bisa memimpin transisi energi jika punya komitmen.
Masa depan biodiesel Indonesia bisa ditempuh dalam dua jalan. Jika bahan baku sawit tetap melimpah dan harga stabil, bukan mustahil kita melangkah ke B50 bahkan B100. Tapi jika terlalu bergantung pada sawit, ada risiko deforestasi, harga pangan, dan tekanan pasar global.
Karena itu, diversifikasi menjadi kunci. Biodiesel bisa dikembangkan dari minyak jelantah, mikroalga, hingga tanaman energi lain. Dengan begitu, racikan energi kita tidak hanya hangat, tapi juga berkelanjutan dengan bahan yang bervariasi.
Seperti segelas air hangat yang pas untuk diminum, B40 adalah racikan energi yang nyaman untuk Indonesia saat ini. Tidak terlalu panas membakar dompet karena impor, tidak terlalu dingin membekukan roda ekonomi, akan tetapi cukup hangat untuk membuat kita melangkah maju. B40 bukanlah jawaban akhir, melainkan satu tahap dalam perjalanan panjang menuju energi bersih dan mandiri.