Menilik Potensi Surat Berharga Syariah Negara sebagai Katalis Pemulihan Ekonomi Nasional

03 Januari 2022, Penulis : Muhammad Naufal Fadhlurahman

Menilik Potensi Surat Berharga Syariah Negara sebagai Katalis Pemulihan Ekonomi Nasional

Muhammad Naufal Fadhlurahman, Direktorat Jenderal Perbendahraan

 

Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) menjadi strategi dalam pemulihan dari pandemi Covid-19. Berbagai strategi dilakukan dalam memastikan program tersebut terlaksana dengan baik. Instrumen pembiayaan pun menjadi salah satu solusi menutup celah defisit. Salah satu yang menarik animo masyarakat adalah Surat Berharga Syariah Negara (SBSN). Instrumen pembiayaan berbasis syariah tersebut ternyata memiliki potensi besar dalam mendukung pemulihan ekonomi nasional.

Sudah lebih dari setahun pandemi Covid-19 menjangkiti Indonesia. Berbagai sektor terdampak akibat virus kecil tak kasat mata tersebut. Salah satu yang menjadi tantangan pemerintah adalah menurunnya pendapatan negara tapi di sisi lain pengeluaran negara menjadi meningkat. Menjawab tantangan tersebut, Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) hadir sebagai salah satu terobosan instrumen pembiayaan pemerintah. SBSN menjadi salah satu sumber pembiayaan yang menarik dan potensial mengingat Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia.

Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) merupakan bagian dari Surat Berharga Negara (SBN). Seperti namanya, SBSN adalah surat berharga (obligasi) yang diterbitkan oleh pemerintah berdasarkan prinsip syariah. SBSN diterbitkan dan dikelola oleh Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan RI.

Diterbitkannya SBSN menjadi bentuk diversifikasi instrumen pembiayaan sekaligus memberikan penawaran yang variatif untuk menarik lebih banyak investor surat berharga negara. Hasil penjualan SBSN dialokasikan untuk membiayai pembangunan strategis nasional, seperti sekolah, rumah sakit, jembatan, dan fasilitas strategis lainnya.

 

Tahun

Penerbitan/Penjualan SBSN – Jangka Panjang

2016

Rp113.293.922.100.000

2017

Rp90.917.094.052.727

2018

Rp96.869.377.647.000

2019

Rp163.086.014.982.928

2020

Rp287.334.266.738.000

sumber: Laporan Keuangan Pemerintah Pusat Tahun 2016 s.d. 2020 (audited)


SBSN – jangka panjang adalah SBSN yang  memiliki periode jatuh tempo lebih dari 12 bulan. Berdasarkan data di atas terlihat bahwa penerbitan/penjualan SBSN – jangka panjang 2016 s.d. 2020 mengalami penurunan pada tahun 2017 namun kembali meningkat drastis pada tahun 2018 hingga 2020. Peningkatan tersebut menjadi indikasi bahwa SBSN – jangka panjang semakin diminati oleh masyarakat dan mampu menjadi sumber pembiayaan yang dapat diandalkan oleh pemerintah.

SBSN tentunya menjadi salah satu sumber pembiayaan yang diandalkan dalam menghadapi pandemi yang melanda. Terhitung hingga Oktober 2021, Pemerintah telah mengeluarkan lima SBN; dua SBN konvensional dan tiga SBSN (satu berbasis wakaf dan dua sukuk ritel). Dua sukuk ritel tersebut adalah SR014 dan SR015.

SR014 ditawarkan pada 26 Februari s.d. 17 Maret 2021 yang kemudian disusul oleh SR015 pada 20 Agustus s.d. 10 September 2021. Berdasarkan data DJPPR, SR014 terjual dengan total nominal Rp16.705.080.000.000, SR015 terjual dengan total nominal Rp27.000.639.000.000. Terjadi signifikansi peningkatan jumlah dana yang terkumpul sebesar 62%. Tak hanya jumlah dana, jumlah investor pun bertambah. SR015 dibeli oleh 49.027 investor, 38% meningkat dibandingkan dengan SR014 yang dibeli oleh 35.626 investor.

 

Mengapa SBSN menjadi Potensial?

Ada beberapa faktor mengapa SBSN menjadi potensial, utamanya sebagai katalis pemulihan ekonomi nasional, antara lain:

  1. Disambut positif oleh masyarakat
    Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pada tahun 2020 tingkat inklusi keuangan syariah di Indonesia hanya 9,1%, dengan tingkat literasi 8,93%. Melihat grafik penjualan SBSN yang kian meningkat serta tingginya animo masyarakat, menjadi sinyal bahwa SBSN berpotensi meningkatkan iklusi dan literasi keuangan syariah. Hal tersebut berpotensi meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi Indonesia.
  2. Tingkat risiko gagal bayar 0%
    Dengan risiko gagal bayar 0% karena langsung dijamin oleh negara, SBSN dapat menjadi primadona bagi para investor terutama para investor pemula.
  3. Minimalisasi biaya pemerintah
    SBSN memliki nilai tambah karena menggunakan mata uang sendiri (rupiah) sehingga tidak ada biaya tambahan akibat nilai tukar rupiah ke mata uang asing.
  4. Sarana peningkatan ekosistem investasi
    SBSN dapat menjadi sarana meningkatkan ekosistem investasi dalam negeri dengan penawaran yang menarik bagi para invenstor baru. Kemudian, SBSN adalah pembiayaan yang berasal dari dalam negeri dan digunakan untuk pembangunan dalam negeri, sehingga tidak ada dana yang keluar (capital outflow).
  5. Multiplier effect
    Dengan membeli SBSN, berarti turut memutar roda perekonomian nasional, karena dana tersebut akan digunakan untuk melakukan pembangunan di sektor strategis pemerintah seperti sekolah, rumah sakit, jembatan, dan fasilitas strategis lainnya.
     

Pertumbuhan Ekonomi yang kian membaik, Angin Segar bagi Indonesia

Setelah terjatuh dalam jurang resesi pada triwulan II s.d IV tahun 2020, Indonesia kembali mengangkasa di 2021. Pertumbuhan ekonomi Indonesia kembali beranjak naik hingga pada triwulan II 2021 terbang tinggi di 7,07%. hal tersebut menjadi semangat bagi pemulihan ekonomi nasional. Peningkatan tersebut terjadi salah satunya karena mendapat sokongan dari tingginya penjualan SBSN di masyarakat.

 

Sinergi Kementerian Keuangan, Optimalkan Potensi SBSN

SBSN dapat menjadi salah satu sumber pembiayaan yang dapat mendukung pemulihan ekonomi nasional. Dengan sejumlah potensi yang menjanjikan, SBSN tampil cemerlang baik bagi masyarakat maupun bagi pemerintah.

Potensi tersebut dapat dioptimalkan dengan sinergi antar bidang di Kementerian Keuangan. Hal paling sederhana tentunya dengan para pegawai mempromosikan kepada masyarakat terkait produk SBSN. Masuk ke dalam hal teknis, antar direktorat jenderal dapat saling berkoordinasi diantaranya dengan  melakukan optimalisasi aset guna dijadikan underlying asset SBSN hingga analisis minat masyarakat untuk membuat produk SBSN yang lebih bervariasi.

SBSN menjadi menarik bukan hanya karena Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbanyak di dunia, tapi karena asas inklusif dan universalitasnya. Kita tidak harus beragama islam untuk dapat mengaplikasikan keuangan syariah. Ditambah lagi keuangan syariah menawarkan skema yang berasas keadilan, kesejahteraan, bahkan etika dan moral. 

Pertumbuhan ekonomi diiringi dengan penjualan SBSN yang fantastis, menjadi tanda bahwa SBSN dapat membantu pemulihan ekonomi nasional. Bukan berarti terus mengeluarkan surat utang, tapi semangat yang dibawa adalah semangat pembaruan dan inovasi. Dengan potensi yang dapat dioptimalkan, tentunya dapat menjadi katalis dalam pemulihan ekonomi nasional.

 

*) Artikel di atas merupakan pendapat pribadi penulis dan tidak mewakili pandangan atau sikap instansi tempat penulis bekerja.

Kirim Komentar

0 Komentar